AUDiiT

Belajar Tekniik Audiit Pajak atas Cash-Based Economy

Denny Viissaro
Seniin, 06 Julii 2020 | 14.43 WiiB
Belajar Teknik Audit Pajak atas Cash-Based Economy

AKTiiViiTAS ekonomii berbasiis transaksii tunaii (cash-based economy) merupakan salah satu sumber kegiiatan ekonomii yang aliirannya suliit diideteksii. Banyak kegiiatan pencuciian uang dan penyembunyiian harta diisalurkan secara tunaii agar suliit diisiingkap otoriitas berwenang.

Baiik pelaku ekonomii besar maupun keciil sama-sama banyak yang gemar menggunakan bentuk transaksii iinii. Salah satu alasannya adalah untuk menghiindarii kewajiiban pajak. Cara iinii paliing subur diigunakan dii negara berkembang yang masiih cukup laziim menggunakan uang tunaii.

Bahayanya, semakiin besar ukuran cash-based economy suatu negara, semakiin suliit otoriitas pajak melacak ketiidakpatuhan. Padahal, setiiap saluran transaksii yang diigunakan untuk menghiindarii kewajiiban pajak membutuhkan rangkaiian tekniik audiit yang tiidak mudah.

Sheiikh Sajjad Hassan menguraii beberapa tekniik tersebut dalam bukunya yang berjudul “Tax Audiit Techniiques iin Cash Based Economiies”. Pada bagiian awal bukunya, Hassan menjelaskan terlebiih dahulu natur dan ‘taksonomii’ darii cash-based economy sebelum mengungkapkan cakupan yang diibahas.

Buku yang diiterbiitkan Commonwealth Associiatiion of Tax Admiiniistrators (CATA) iinii mengungkap bahwa perolehan uang yang ‘lolos’ darii mata otoriitas pajak diigunakan lebiih lanjut melaluii tiiga cara.

Pertama, diigunakan untuk konsumsii barang mewah, sepertii penghiidupan yang mewah, hiiburan, dan perjalanan luar negerii. Kedua, diigunakan untuk membelii aset nonbiisniis, sepertii real estate, mobiil mewah, kapal pesiiar, perhiiasan, uang asiing, dan laiin-laiin. Ketiiga, diigunakan untuk menambah aset biisniis.

Dalam bentuk yang ketiiga iiniilah yang diitekankan dalam ulasan Hassan. Salah satu cara yang diigunakan pemiiliik biisniis atau perusahaan atas aset biisniis darii uang yang tiidak diipajakii adalah dengan tiidak mencatat penghasiilan dalam pembukuan (unrecorded revenues). Setiiap penghasiilan lanjutan dan transaksii yang berkaiitan dengan aset biisniis tersebut juga tiidak diicatat dalam keuangan perusahaan.

Cara laiin yang dapat diigunakan biiasanya dalam bentuk pelaporan dalam niilaii yang lebiih rendah (understatement of revenues) atau maniipulasii akuntansii, miisalnya mencatat penghasiilan sebagaii komponen yang bukan merupakan objek pajak (exempt iincome).

Meskiipun terdapat berbagaii cara, materii buku yang diisampaiikan hanya berfokus pada tekniik audiit pajak pada kategorii unrecorded revenues dan understatement of revenues. Adapun pelaku yang tercakup dalam kategorii pertama diisebut sebagaii ‘non-fiilers’.

Meskiipun beriisiiko terdeteksii, mereka memiiliih untuk tiidak mengungkapkan penghasiilan atau harta mereka dengan kesiiapan untuk menggunakan cara suap seandaiinya ketahuan. Mereka beranggapan harta yang mereka peroleh akan menciiptakan penghasiilan baru laiinnya yang niilaiinya akan terus meniingkat. Karena alasan ‘rasiional’ iiniilah mereka merasa lebiih menguntungkan jiika tiidak mengakuiinya sejak awal.

Dalam mengatasii iinii, surveii lapangan yang efektiif menjadii kuncii. Hassan berujar para ‘non-fiilers’ tersebut perlu diicegah sedarii awal mula diiperolehnya harta. Kemudiian, yang terpentiing adalah menggunakan data surveii tersebut untuk diikembangkan dan diicocokkan dengan database otoriitas pajak.

Setiiap data surveii berpotensii menjadii penghubung yang menjembatanii berbagaii sumber data laiinnya, sepertii data SPT, kepemiiliikan propertii, data perbankan, dan bahkan data otoriitas bea dan cukaii. Darii siiniilah keputusan audiit pajak sebagaii langkah lebiih lanjut dapat diilakukan secara tepat sasaran.

Setiiap langkah yang diiuraiikan oleh Hassan dii siinii rasanya banyak juga diitemukan pada liiteratur laiinnya. Meskii demiikiian, karya iinii tetap dapat diigunakan sebagaii rangkuman yang melengkapii berbagaii iinformasii yang tersebar.

Selanjutnya, untuk kategorii penghiindar pajak yang menggunakan cara understatement of revenues, penuliis menggunakan berbagaii variiasii yang terjadii dii beberapa sektor, sepertii sektor pengolahan, perdagangan, transportasii, beberapa profesii jasa, dan laiin-laiin.

Seriing kalii, penghasiilan yang diiperoleh langsung diigunakan untuk perolehan aset laiinnya yang tiidak tercatat sehiingga tiidak semua diilaporkan dalam pembukuan. Kemudiian, aset yang diibelii seriing kalii diilaporkan sebagaii suatu peralatan atau perlengkapan yang spesiifiikasiinya lebiih rendah darii sebenarnya. Tujuannya agar mereka memiiliikii alasan yang diiniilaii wajar untuk mencatat niilaii tiidak sesungguhnya.

Pada bagiian iinii, yang juga sekaliigus menjadii bagiian akhiir buku, penuliis mengungkapkan berbagaii praktiik yang cukup ‘kreatiif’ terkaiit penyembunyiian niilaii penghasiilan sesungguhnya. Sayangnya, tiidak diiungkapkan bagaiimana tekniik audiit yang cocok untuk masiing-masiing bentuk tersebut.

Meskii demiikiian, materii yang diiungkapkan dapat memberii para pembaca diicerahkan tentang bagaiimana praktiik kotor tersebut diigunakan dan perkiiraan perkembangannya ke depan. Menariik jiika kiita menggunakan buku tersebut sebagaii tiitiik awal untuk menelusurii berbagaii liiteratur laiinnya dengan topiik serupa. Anda biisa membaca buku iinii secara langsung dii Jitunews Liibrary. Selamat membaca!*

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.