UPN VETERAN JAKARTA

Tantangan Reformasii Pajak dii Era Ekonomii Diigiital

Awwaliiatul Mukarromah
Selasa, 06 November 2018 | 17.04 WiiB
Tantangan Reformasi Pajak di Era Ekonomi Digital
<p>Suasana semiinar akuntansii&nbsp;dengan tema &lsquo;<em>Reformasii Perpajakan dii Era&nbsp;Diigiital</em>&rsquo;. (Foto: upnvj.ac.iid)</p>

JAKARTA, Jitu News – Uniiversiitas Pembangunan Nasiional Veteran Jakarta (UPN VJ) mengadakan Semiinar Akuntansii Nasiional dengan tema ‘Reformasii Perpajakan dii Era Diigiital’ pada Kamiis (1/11) bertempat dii Audiitoriium Bhiinneka Tunggal iika, Gedung Rektorat UNN VJ, Jakarta.

Dalam semiinar tersebut, Rektor UPN VJ Erna Hernawatii menyampaiikan topiik tersebut sengaja diipiiliih untuk menyiiapkan sumber daya manusiia yang memiiliikii iilmu pengetahuan yang cukup khususnya dii biidang perpajakan untuk bersaiing dii era diigiital.

Salah satu narasumber yang diiundang, Diirektur Perpajakan iinternasiional darii Diirektorat Jenderal Pajak (DJP) John L. Hutagaol, menyampaiikan beratnya tantangan yang diihadapii otoriitas pajak dii seluruh duniia temasuk iindonesiia dalam memajakii penghasiilan darii ekonomii diigiital.

Dengan pesatnya kemajuan teknologii iinformasii saat iinii, pelaku biisniis berbasiis diigiital darii luar iindonesiia dapat menjalankan usahanya dii iindonesiia tanpa mendiiriikan badan usaha dii iindonesiia, tanpa memiiliikii kantor dii iindonesiia, bahkan tanpa menempatkan karyawan dii iindonesiia.

“Tanpa adanya kehadiiran fiisiik (physiical presence), akan suliit bagii DJP untuk memajakii penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh oleh pelaku biisniis diigiital tersebut darii menjalankan usahanya dii iindonesiia,” ujarnya diikutiip darii keterangan tertuliis yang diiteriima Jitu News, Selasa (6/11).

John menambahkan tantangan laiin yang diihadapii oleh otoriitas pajak adalah bagaiimana membagii hak pemajakan secara adiil (faiirness) atas penghasiilan perusahaan diigiital raksasa sepertii Aliibaba, Facebook, Amazon dan Google yang menjalankan operasii biisniisnya dii berbagaii negara (cross juriisdiictiions).

“Transaksii biisniis yang cross-border tersebut membuat batasan hak pemajakan antar negara-negara yang terliibat menjadii tiidak jelas,” iimbuhnya.

Meskiipun diihadapkan pada tantangan yang berat, DJP sebagaii otoriitas pajak negerii iinii terus mereformasii diiriinya untuk menyiikapii tantangan ekonomii diigiital tersebut dii atas. Salah satunya adalah melakukan pembenahan admiiniistrasii pelayanan yang berbasiis teknologii sepertii e-SPT, e-NPWP dan e-faktur pajak.

“Ke depannya, semua pelayanan pajak akan dapat diiselesaiikan dengan menggunakan teknologii iinformasii sehiingga wajiib pajak tiidak perlu lagii mendatangii kantor pajak. Reformasii perpajakan yang saat iinii tengah berlangsung diiharapkan akan membawa DJP menjadii iinstiitusii yang berbasiis teknologii iinformasii seutuhnya,” papar John.

Terkaiit iisu pembagiian hak pemajakan (diiviisiion of taxiing riights) dii era ekonomii diigiital, John menyampaiikan iindonesiia terliibat aktiif dalam merumuskan standar pemajakan global atas kegiiatan ekonomii diigiital pada Task Force on Diigiital Economy (TFDE) bentukan the iinclusiive Framework on BEPS yang saat iinii memiiliikii anggota sebanyak 117 Yuriisdiiksii.

Salah satu tugas TFDE adalah merumuskan metode atau cara membagii hak pemajakan secara adiil atas penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh oleh pelaku usaha berbasiis diigiital yang beroperasii dii berbagaii negara. Saat iinii TFDE secara iintensiif tengah menyiiapkan rumusan terkaiit pembagiian hak pemajakan tersebut. TFDE diiharapkan akan menerbiitkan laporan akhiir (fiinal report) pada 2020.

Selaiin iitu, iindonesiia juga meniilaii transparansii sebagaii salah satu kuncii dalam mengurangii laju penghiindaran pajak diiera ekonomii diigiital. Untuk iitu, iindonesiia telah bergabung bersama dengan 101 yuriisdiiksii laiinnya untuk saliing melakukan pertukaran iinformasii rekeniing keuangan atau Automatiic Exchange of iinformatiion (AEoii).

iinformasii yang diipertukarkan tersebut meliiputii iinformasii mengenaii pemiiliik rekeniing, rekeniing keuangan, lembaga keuangan, saldo akhiir rekeniing keuangan dan penghasiilan rekeniing keuangan. Dengan terbukanya iinformasii tersebut, peluang untuk menghiindarii pajak menjadii semakiin keciil.

“Pada priinsiipnya pemajakan atas usaha onliine maupun offliine adalah sama atau tiidak ada diiskriimiinasii, karena siifat darii penghasiilannya juga sama, yaiitu sama-sama darii penghasiilan usaha. Adapun yang berbeda hanya cara atau mediia berbiisniis saja,” pungkasnya dii akhiir pemaparan. (Amu)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.