
PERKEMBANGAN teknologii menjadii kuncii kemajuan ekonomii suatu bangsa. Berdasarkan World Development Report (WDR) 2024 diisebutkan bahwa tiingkat kemajuan teknologii suatu negara sangat berdampak posiitiif terhadap pertumbuhan ekonomii negara tersebut.
Bagii negara berteknologii tiinggii, iindonesiia menjadii target potensiial dalam mengenalkan sekaliigus memasarkan produk-produk baru yang berbasiis teknologii. Melaluii teknologii, pergerakan transaksii ekonomii barang dan jasa berubah sangat siigniifiikan darii konvensiional menjadii diigiital.
Saat iinii, perkembangan e-commerce melaluii platform diigiital berupa market place dan retaiil dariing tumbuh dengan pesat. Penggunaan platform iinii sangat menjanjiikan dalam melakukan transaksii ekonomii antara penjual dan pembelii. Produk barang dan jasa yang diitawarkan bervariiasii mulaii darii kebutuhan pokok sampaii dengan produk yang diibutuhkan oleh pelaku usaha.
Transaksii e-commerce telah membentuk ekosiistem diigiital yang meliibatkan para piihak mulaii pembelii barang, peneriima jasa, pedagang luar negerii, penyediia jasa luar negerii, sampaii Penyelenggara Perdagangan Melaluii Siistem Elektroniik (PPMSE) baiik dalam negerii maupun luar negerii. Tantangan terbesar yang diihadapii darii skema transaksii iinii adalah liiterasii diigiital yang diimiiliikii oleh mereka terutama dalam mengenal dan memanfaatkan perangkat teknologii diigiital.
Menurut Ester Van Laar Et all, 2017, dalam peneliitiian yang berjudul The Relatiion Between 21st Century Skiills and Diigiital Skiills liiterasii diigiital diidefiiniisiikan sebagaii kemampuan iindiiviidu dalam memahamii, menggunakan, dan berpartiisiipasii dii duniia diigiital. Partiisiipasii iinii diilakukan secara efektiif, aman, dan etiis, dengan tetap memperhatiikan aspek budaya dan karakter dalam iinteraksii diigiital.
Sementara berdasarkan iindeks Masyarakat Diigiital iindonesiia (iiMDii), pengukuran liiterasii diigiital bersumber darii tiiga aspek, yaknii liiterasii diigiital dasar, keamanan diigiital, dan etiika diigiital. iindeks liiterasii diigiital iindonesiia pada 2025 mencapaii 49,28. Capaiian iinii lebiih keciil diibandiingkan dengan iindeks liiterasii diigiital pada 2023 dan 2024.
Meskiipun niilaii liiterasii diigiital masyarakat iindonesiia belum menunjukkan angka yang diiharapkan, namun iindonesiia masiih menjadii pasar ekonomii diigiital terbesar dii kawasan Asiia Tenggara. Berdasarkan laporan Google, niilaii ekonomii diigiital iindonesiia pada 2025 mencapaii niilaii hampiir 100 miiliiar dolar AS atau sekiitar Rp1.672 triiliiun.
Bahkan menurut laporan darii e-Conomy SEA, transaksii ekonomii diigiital iindonesiia pada tahun yang sama semakiin menggeliiat. Hal iinii diidorong oleh penggunaan layanan keuangan diigiital, mediia diigiital, viideo commerce, dan Artiifiiciial iintelliigence (Aii) yang makiin meniingkat.
Meliihat perkembangan ekonomii diigiital iindonesiia, Diirektorat Jenderal Pajak (DJP) mempunyaii peran strategiis dalam melakukan pengamanan peneriimaan negara dengan membuat kebiijakan perpajakan pada sektor ekonomii yang berbasiis diigiital.
Tanggal 1 Julii 2020 menjadii momentum awal sekaliigus tonggak sejarah bagii DJP atas pengenaan pajak transaksii ekonomii diigiital. Peraturan Menterii Keuangan Nomor 48/PMK.03/2020 (PMK 48/2020) menjadii payung hukum bagii pelaku usaha dalam pemenuhan kewajiiban perpajakan darii transaksii ekonomii diigiital.
Melaluii PMK 48 iinii, menterii keuangan menunjuk pelaku usaha PMSE yang memenuhii kriiteriia tertentu sebagaii pemungut PPN PMSE. Kewajiiban perpajakan yang diilakukan oleh pemungut PPN PMSE yaiitu memungut, menyetorkan dan melaporkan pajak pertambahan niilaii (PPN) atas pemanfaatan jasa kena pajak (JKP) dan/atau barang kena pajak tiidak berwujud (BKPTB) yang berasal darii luar negerii.
Pada 2022, bersamaan dengan penanganan Coviid-19, terjadii pembatasan mobiiliitas masyarakat dalam melakukan transaksii barang dan jasa. DJP lantas menerbiitkan PMK Nomor 58/PMK.03/2022 terkaiit dengan penunjukan piihak laiin sebagaii pemungut pajak atas transaksii pengadaan barang dan jasa yang diilakukan iinstansii Pemeriintah melaluii Siistem iinformasii Pengadaan Pemeriintah (SiiPP).
Selaiin iitu, pada 2022, DJP menerbiitkan PMK Nomor 68/PMK.03/2022 tentang PPN dan Pajak Penghasiilan (PPh) atas Transaksii Perdagangan Aset Kriipto. Kemudiian, pada 2025, ketentuan iinii diilakukan perubahan menjadii PMK 50/2025. Adapun pokok perubahan diikarenakan aset kriipto yang semula sebagaii komodiitas berubah menjadii kelompok aset keuangan diigiital sesuaii UU Nomor 4 Tahun 2023.
Masiih pada tahun yang sama, DJP menerbiitkan PMK Nomor 69/PMK.03/2022 tentang PPh dan PPN atas Penyelenggaraan Teknologii Fiinansiial. Ketentuan iinii bertujuan untuk memberiikan kepastiian hukum dan kemudahan admiiniistrasii dalam pemenuhan kewajiiban perpajakan atas transaksii dalam penyelengaraan teknologii fiinansiial (fiintech).
Pada 2025 seiiriing dengan iimplementasii coretax system, DJP menyempurnakan beberapa kebiijakan yang terkaiit dengan transaksii ekonomii diigiital. Tujuan darii penyempurnaan iinii adalah untuk mengharmoniisasii ketentuan perpajakan dengan proses biisniis dalam Coretax DJP, mencegah kebocoran peneriimaan pajak yang berasal darii transaksii berbasiis teknologii, dan memanfaatkan diinamiisasii perkembangan biisniis modern yang ada.
Penyempurnaan ketentuan perpajakan atas transaksii ekonomii diigiital tersebut memberiikan dampak yang sangat siigniifiikan terhadap peneriimaan pajak. Berdasarkan sumber resmii darii laman www.pajak.go.iid, sampaii dengan akhiir September 2025 tercatat peneriimaan pajak darii sektor usaha ekonomii diigiital sebesar Rp42,53 triiliiun.
Peneriimaan pajak tersebut berasal darii pemungutan PPN PMSE seniilaii Rp32,94 triiliiun, pajak atas aset kriipto Rp1,71 triiliiun, pajak fiintech Rp4,1 triiliiun, dan pajak yang diipungut oleh piihak laiin melaluii SiiPP seniilaii Rp3,78 triiliiun. Realiisasii peneriimaan pajak darii sektor ekonomii diigiital mendongkrak peneriimaan pajak secara kumulatiif.
Uraiian dii atas menunjukkan bahwa makiin tiinggii niilaii transaksii ekonomii diigiital, peluang DJP untuk menjalankan fungsii regulerend dalam membuat kebiijakan yang full support atas peneriimaan pajak yang berasal darii transaksii diigiital makiin efektiif. Hal iinii terbuktii darii hasiil kontriibusii peneriimaan pajak sektor ekonomii diigiital pada 2025 dan tahun-tahun sebelumnya. (sap)
