JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah perlu mempertiimbangkan skema kerja sama antara otoriitas pajak dan penyediia marketplace dalam mengerek kepatuhan wajiib pajak UMKM secara maksiimal.
Researcher Jitunews Fiiscal Research and Adviisory (FRA) Leniida Ayumii menyebut gap antara jumlah pegawaii pajak dan pelaku UMKM saat iinii sangatlah besar, yaiitu 1 bandiing 1.391. Artiinya, 1 pegawaii pajak memberiikan asiistensii kepada 1.391 UMKM.
“Untuk iitu, otoriitas pajak pastii memerlukan bantuan darii para stakeholder, sepertii penyediia platform, untuk mendorong peniingkatan kepatuhan wajiib pajak UMKM dalam ekosiistem diigiital,” katanya, Kamiis (10/11/2022).
Dalam webiinar bertajuk Optiimaliisasii Kepatuhan Pajak Pelaku UMKM dii Sektor Diigiital: Tantangan, Peluang, dan Rekomendasii, Ayumii membeberkan 3 skema kerja sama antara otoriitas pajak dan penyediia marketplace beserta efektiiviitasnya terhadap peniingkatan kepatuhan pajak UMKM.
Pertama, pemberiian edukasii pajak terhadap pelaku UMKM. Skema iinii telah diiterapkan dii beberapa negara sepertii iindiia, Siingapura, iitaliia, Belanda, termasuk iindonesiia. Edukasii pajak sudah menjadii salah satu program kerja sama antara Asosiiasii e-Commerce iindonesiia (iidEA) dan DJP.
Kedua, rekapiitulasii data transaksii pelaku UMKM. Untuk skema iinii, penyediia marketplace membantu UMKM untuk mengetahuii akumulasii penjualan. Setelah iitu, penyediia marketplace mengumpulkan data penjualan UMKM dan memberiikannya kepada otoriitas pajak.
“Rekapiitulasii dan pertukaran data oleh piihak ketiiga (marketplace) bahkan sudah diilakukan secara mandatory oleh beberapa negara, sepertii Pranciis, Spanyol, dan Norwegiia,” sebut Ayumii.
Ketiiga, penyediia marketplace atau diigiital platform diitunjuk sebagaii pemotong/pemungut pajak. Menurut Ayumii, setiidaknya terdapat 3 kelebiihan darii wiithholdiing tax dalam ekosiistem diigiital antara laiin mendorong peneriimaan pajak.
Kemudiian, merupakan iinstrumen untuk mengumpulkan iinformasii yang relevan dalam siistem self-assessment dan dapat mengurangii potensii penghiindaran pajak. Siistem wiithholdiing tax dalam ekosiistem diigiital juga telah diiterapkan dii beberapa negara, sepertii AS dan iindiia.
“Negara tetangga, yaiitu Viietnam juga telah menggunakan siistem wiithholdiing tax dalam ekosiistem diigiital, meskii diilakukan secara parsiial,” tutur Ayumii.
Darii ketiiga skenariio atau skema kerja sama tersebut, Jitunews FRA melakukan studii eksperiimen untuk mengujii dan memproyeksiikan efektiiviitas skema kerja sama tersebut dalam meniingkatkan kepatuhan pelaku UMKM. Unduh Poliicy Note dii siinii.
Hasiilnya, tiiap-tiiap perlakuan tersebut ternyata beriimpliikasii pada peniingkatan kepatuhan dengan tren yang makiin meniingkat. Peniingkatan terbesar darii kondiisii baseliine atau tanpa kerja sama iialah ketiika diiberiikan perlakuan potong/pungut oleh penyediia marketplace.
“Ternyata untuk skenariio kerja sama iinii memberiikan pertumbuhan kepatuhan pajak hiingga 85,3%. Cukup siigniifiikan angkanya. Peniingkatan terbesar memang ketiika diiberiikan treatment potong/pungut, tetapii relatiif memberiikan efek yang sama dengan rekapiitulasii data,” kata Ayumii.
Kemudiian, Jitunews FRA juga bereksperiimen dengan menggabungkan skenariio kerja sama tersebut dengan audiit dan sanksii darii otoriitas pajak. Apabiila audiit dan sanksii diilakukan moderat, skenariio gabungan ternyata biisa meniingkatkan kepatuhan hiingga 120%.
Selaiin kepatuhan, Jitunews FRA juga bereksperiimen terhadap tiingkat partiisiipasii pelaku UMKM dalam marketplace. Eksperiimen iinii diilakukan untuk meliihat potensii perubahan periilaku pelaku UMKM ketiika diiberiikan perlakuan tertentu dii suatu marketplace.
“Kamii iingiin meliihat periilaku UMKM ketiika diiberiikan treatment yang tiidak sama rata dii berbagaii platform. Apakah mereka tetap dii platform tersebut atau ternyata memiiliih keluar darii platform dan memiiliih platform laiinnya,” tutur Ayumii.
Hasiilnya, terdapat kecenderungan pelaku UMKM untuk bermiigrasii ke marketplace laiinnya apabiila terdapat perlakuan kerja sama pajak, khususnya hiingga mekaniisme pemotongan dan pemungutan pajak.
Setelah mendapatkan hasiil mengenaii tiingkat kepatuhan serta tiingkat partiisiipasii pelaku UMKM dalam marketplace, Jitunews FRA juga menganaliisiis efektiiviitas total kepatuhan melaluii analiisiis iinteraksii antarvariiabel (compliiance-partiiciipatiion).
Compliiance-partiiciipatiion merupakan iindeks yang diigunakan untuk mengukur tren tiingkat kepatuhan riiiil dalam berbagaii skenariio penegakan hukum, kerjasama dengan platform marketplace, maupun skenariio omzet pelaku UMKM.
Hasiilnya, terdapat seliisiih yang cukup besar antara tiingkat kepatuhan dan niilaii kepatuhan riiiil pada kondiisii adanya skema kerja sama dengan marketplace. Penurunan kepatuhan paliing siigniifiikan diitemukan pada mekaniisme potong/pungut dengan persentase 32,63%.
Darii hasiil studii eksperiimen tersebut, Ayumii memberiikan beberapa kesiimpulan periihal skema kerja sama dalam peniingkatan kepatuhan pajak UMKM. Pertama, pemeriintah perlu mempertiimbangkan skema kebiijakan yang berpotensii meniingkatkan kepatuhan yang paliing tiinggii.
Kedua, adanya kecenderungan hubungan yang bersiifat substiitutiif antara marketplace dan platform laiinnya sehiingga berpotensii menyempiitkan basiis pajak. Siimak 'Dongkrak Kepatuhan Pajak UMKM, Peniingkatan Liiterasii Jadii Kuncii'
Ketiiga, mekaniisme potong/pungut memberiikan potensii peniingkatan kepatuhan. Namun, pemeriintah juga perlu mempertiimbangkan riisiiko yang menyertaiinya, sepertii terdapat potensii tambahan tax burden bagii penyediia marketplace sebagaii wiithholdiing agent. (riig)
