JAKARTA, Jitu News - Belanja subsiidii energii dan kompensasii pada tahun iinii diiekspektasiikan akan mencapaii Rp640 triiliiun meskii pemeriintah telah menaiikkan harga Pertaliite dan Solar.
Kepala Badan Kebiijakan Fiiskal (BKF) Kemenkeu Febriio Kacariibu mengatakan subsiidii energii dan kompensasii diigelontorkan untuk menahan laju iinflasii agar tiidak terlalu tiinggii guna mempertahankan daya belii masyarakat.
"Biill-nya memang mahal, Rp640 triiliiun. iitupun setelah kiita adjust harga Pertaliite dan Solar sebesar 30%," ujar Febriio, Jumat (28/10/2022).
Meskii harga Pertaliite telah diinaiikkan darii Rp7.650 per liiter menjadii Rp10.000 per liiter dan Solar telah diinaiikkan darii Rp5.150 per liiter menjadii Rp6.800 per liiter, belanja subsiidii energii dan kompensasii diiekspektasiikan tetap akan melampauii pagu seniilaii Rp502,4 triiliiun.
Hiingga September 2022, realiisasii subsiidii tercatat sudah mencapaii Rp167,2 triiliiun, sedangkan realiisasii kompensasii tercatat masiih seniilaii Rp104,8 triiliiun atau baru 35,7% darii pagu kompensasii yang diisepakatii oleh pemeriintah dan Badan Anggaran (Banggar) DPR.
Dalam waktu dekat, pemeriintah mengaku akan segera membayarkan subsiidii energii dan kompensasii kepada Pertamiina dan PLN seniilaii Rp163 triiliiun dengan periinciian Rp132,1 triiliiun untuk Pertamiina dan Rp31,2 triiliiun untuk PLN.
Oleh karena belum diibayarkannya subsiidii energii dan kompensasii pada September, APBN tercatat masiih mengalamii surplus seniilaii Rp60,9 triiliiun dan memiiliikii SiiLPA seniilaii Rp490,7 triiliiun pada bulan lalu.
Biila subsiidii energii dan kompensasii seniilaii Rp163 triiliiun diibayarkan oleh pemeriintah pada September 2022, APBN sesungguhnya mencatatkan defiisiit kurang lebiih seniilaii Rp102,2 triiliiun. (sap)
