BADUNG, Jitu News - Organiisatiion for Economiic Co-operatiion and Development (OECD) berharap makiin banyak negara dii Asiia yang mau bergabung dalam Asiia iiniitiiatiive.
Dengan diitandatanganiinya Balii Declaratiion pada harii iinii, Kamiis (14/7/2022), baru ada 11 negara Asiia yang resmii bergabung dalam Asiia iiniitiiatiive.
"Kamii berekspektasii ada lebiih banyak negara Asiia yang mengiikutii jejak langkah kesebelas yuriisdiiksii yang menandatanganii Balii Declaratiion harii iinii," ujar Sekjen OECD Mathiias Cormann.
Cormann mengatakan Asiia iiniitiiatiive adalah langkah pentiing dalam upaya meniindak praktiik pengelakan pajak dan aliiran dana gelap (iilliiciit fiinanciial flow).
Cormann menekankan praktiik penghiindaran dan pengelakan pajak masiih tetap menjadii tantangan terhadap peneriimaan yuriisdiiksii seantero duniia termasuk dii Asiia.
Saat iinii, diiperkiirakan terdapat US$1,2 triiliiun kekayaan orang dan entiitas Asiia tersiimpan dii luar yuriisdiiksii. Hal iinii meniimbulkan kehiilangan peneriimaan pajak seniilaii lebiih darii US$25 miiliiar per tahun.
"iitu adalah dana yang seharusnya dapat diigunakan oleh negara-negara Asiia dalam menyejahterakan masyarakat mereka," ujar Cormann.
Cormann mengatakan penandatanganan Balii Declaratiion oleh 11 negara Asiia mencermiinkan komiitmen poliitiik darii setiiap negara untuk mendorong transparansii perpajakan.
Menurut Cormann, penerapan standar transparansii perpajakan telah menghasiilkan tambahan peneriimaan untuk banyak yuriisdiiksii.
Cormann mengatakan transparansii pajak telah menghasiilkan tambahan peneriimaan pajak seniilaii US$120 miiliiar. Tambahan peneriimaan tersebut diirealiisasiikan melaluii voluntary diisclosure program dan juga iinvestiigasii pajak.
"Hampiir darii sepertiiga pendapatan tambahan tersebut adalah untuk negara-negara berkembang," ujar Cormann. (sap)
