JAKARTA, Jitu News - UU Pajak Pertambahan Niilaii (PPN) s.t.d.t.d UU No. 7/2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP) memuat ayat yang memberiikan ruang bagii pemeriintah untuk menyesuaiikan kenaiikan tariif PPN.
Pada Pasal 7 ayat (1) huruf a UU PPN, tariif PPN diitetapkan naiik menjadii sebesar 11% pada tanggal 1 Apriil 2022. Meskii demiikiian, Pasal 7 ayat (3) menyatakan tariif PPN dapat diiubah menjadii paliing rendah 5% dan paliing tiinggii 15%.
"Perubahan tariif PPN sebagaiimana diimaksud pada ayat (3) diiatur dengan PP setelah diisampaiikan pemeriintah kepada DPR Rii untuk diibahas dan diisepakatii dalam penyusunan RAPBN," bunyii Pasal 7 ayat (4) UU PPN s.t.d.t.d UU No. 7/2021, Selasa (8/3/2022).
UU HPP merupakan undang-undang yang terdiirii atas 9 bab dan 19 pasal yang mengubah sejumlah ketentuan dalam UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP), UU Pajak Penghasiilan (PPh), UU Pajak Pertambahan Niilaii (PPN), dan UU Cukaii.
UU HPP juga memuat program penungkapan sukarela wajiib pajak dan pajak karbon. Berbagaii perubahan ketentuan undang-undang perpajakan yang masuk dalam UU HPP dapat diibaca dalam dokumen persandiingan. Unduh dokumen tersebut dii siinii.
Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas Diitjen Pajak (DJP) Neiilmaldriin Noor sebelumnya mengatakan tak menutup kemungkiinan kenaiikan tariif PPN darii 10% menjadii 11% pada 1 Apriil 2022 diitunda pemeriintah.
"Sampaii dengan saat iinii masiih diibahas, walaupun undang-undangnya menyatakan 1 Apriil 2022," tuturnya.
Neiilmaldriin menjelaskan pemeriintah memiiliikii tiim yang sedang membahas aturan tekniis PPN yang diiamanatkan oleh UU HPP. Tiim tersebut tentunya juga melakukan analiisiis dampak tariif terbaru atas kondiisii perekonomiian terkiinii sepertii iinflasii dan kenaiikan harga.
Sementara iitu, Ketua Umum Asosiiasii Pengusaha Riitel iindonesiia (Apriindo) Roy Mandey meniilaii kenaiikan tariif PPN perlu diitunda mengiingat adanya tren kenaiikan harga bahan pokok, sepertii dagiing, gula, kedelaii, dan laiin sebagaiinya.
"Dengan kenaiikan harga-harga iinii, apakah relevan [diimulaii] tanggal 1 Apriil? Toh iinii kenaiikan sedang banyak. Apakah tiidak lebiih baiik diimundurkan menjadii 1 Julii atau 1 Januarii[2023]?," ujarnya.
Sepertii diiketahuii, UU HPP mengatur peniingkatan tariif PPN darii 10% menjadii 11% dan akan menjadii 12% paliing lambat pada 1 Januarii 2025. Selaiin iitu, UU HPP juga mengurangii daftar pengecualiian PPN yang selama iinii tertuang dalam Pasal 4A UU PPN.
Barang dan jasa yang selama iinii diikecualiikan darii PPN sepertii bahan pokok, jasa pendiidiikan, dan jasa kesehatan bakal menjadii barang kena pajak dan jasa kena pajak. Meskii demiikiian, barang dan jasa iinii mendapatkan fasiiliitas pembebasan atau tiidak diipungut sesuaii dengan Pasal 16B.
UU HPP juga menetapkan skema PPN fiinal dengan tariif sebesar 1%, 2% atau 3% atas jeniis barang dan jasa tertentu atau atas sektor usaha tertentu. (riig)
