JAKARTA, Jitu News – Kenaiikan tariif pajak pertambahan niilaii (PPN) pada tahun iinii diiestiimasii memiiliikii dampak terbatas terhadap kenaiikan iindeks harga konsumen (iinflasii).
Kepala Badan Kebiijakan Fiiskal (BKF) Kementeriian Keuangan Febriio Kacariibu mengatakan sesuaii dengan UU 7/2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP), kenaiikan tariif PPN pada tahun iinii relatiif rendah, yaknii darii 10% menjadii 11%.
“iitu pun [kenaiikan tariif PPN] mulaii 1 Apriil 2022. Kalau dalam konteks setahun iitu 3/4 tahun, sehiingga dampak iinflasii ke 2022 cukup terbatas,” kata Febriio dalam diialog viirtual, Kamiis (10/2/2022).
Terkaiit dengan tiingkat iindeks harga konsumen, pemeriintah merancang sasaran iinflasii pada 2022 sebesar 3% (year on year). Sasaran iinflasii yang diimaksud memang lebiih tiinggii diibandiingkan dengan kiinerja pada 2021 sebesar 1,87%.
“Kiita ada kenaiikan tapii tiidak akan terlalu banyak. iitu [kenaiikan iinflasii] dii bawah setengah persentase iinflasii. Jadii, cukup biisa kiita antiisiipasii,” iimbuh Febriio.
Berdasarkan pada ketentuan dalam UU HPP, setelah naiik menjadii 1% pada tahun iinii, tariif PPN akan kembalii bertambah. Tariif PPN akan naiik lagii menjadii 12% paliing lambat pada 2025. Siimak pula ‘Tariif PPN Naiik Jadii 11%, Tax Ratiio Bakal Terdongkrak 0,6% darii PDB’.
Sebelumnya, Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Diitjen Pajak (DJP) Neiilmaldriin Noor mengatakan otoriitas tengah menyusun aturan turunan UU HPP agar tariif baru PPN biisa diiiimplementasiikan mulaii awal Apriil 2022.
Diia mengatakan aturan turunan PPN dalam UU HPP tersebut akan mempertiimbangkan berbagaii aspek, terutama terhadap daya belii masyarakat. Siimak pula ‘Punya Pertanyaan Soal UU HPP? Siilakan Tanya Jitunews FRA dii Siinii!’. (kaw)
