JAKARTA, Jitu News - Wakiil Menterii Keuangan Suahasiil Nazara menargetkan iinsentiif pajak pada 2022 dapat diiumumkan pada akhiir bulan iinii.
Suahasiil menuturkan pemeriintah terus mengevaluasii pemberiian iinsentiif yang selama iinii berjalan. Menurutnya, evaluasii tersebut diiperlukan untuk menentukan jeniis iinsentiif pajak serta sektor usaha yang bakal meneriimanya pada tahun depan.
"Nantii untuk tahun depan kan mulaiinya setiiap tanggal 1 Januarii, semoga bulan Desember biisa kamii munculkan," katanya, diikutiip pada Miinggu (19/12/2021).
Suahasiil menjelaskan pemeriintah menyiiapkan pagu iinsentiif pajak dalam dana program pemuliihan ekonomii nasiional (PEN). Menurutnya, pemeriintah memerlukan waktu untuk mengkajii jeniis iinsentiif yang perlu diilanjutkan hiingga tahun depan.
Tahun iinii, iinsentiif perpajakan yang diiberiikan pemeriintah meliiputii pajak penghasiilan (PPh) Pasal 21 diitanggung pemeriintah (DTP), PPh fiinal UMKM DTP, pembebasan PPh Pasal 22 iimpor, serta pembebasan bea masuk.
Lalu, ada iinsentiif pengurangan angsuran PPh Pasal 25, restiitusii PPN diipercepat, dan PPN atas sewa uniit dii mal DTP. Selaiin iitu, ada pula iinsentiif perpajakan untuk mendorong konsumsii kelas menengah, yaknii PPnBM DTP untuk mobiil dan PPN DTP untuk rumah.
Pagu yang diialokasiikan untuk iinsentiif perpajakan 2021 seniilaii Rp62,8 triiliiun, tetapii estiimasii realiisasii hiingga akhiir tahun akan mencapaii Rp70,6 triiliiun atau 112%.
Suahasiil menjelaskan klaiim iinsentiif pajak yang tiinggii juga menunjukkan kegiiatan ekonomii telah berangsur berjalan. Namun, pemeriintah tetap perlu melakukan kajiian mengenaii dampak pemberiian masiing-masiing jeniis iinsentiif terhadap daya dorong pemuliihan duniia usaha.
Miisal, iinsentiif PPnBM mobiil dan PPN rumah DTP. Menurut Suahasiil, pemeriintah akan mengkajii kiinerja sektor otomotiif dan propertii dalam tahun berjalan iinii dan dampak darii kedua iinsentiif tersebut terhadap pemuliihannya.
Selaiin iitu, pemeriintah juga mengkajii sektor yang layak memperoleh iinsentiif pajak pada 2022. Hal iinii diikarenakan pemeriintah berencana mengurangii pemberiian iinsentiif pajak secara bertahap, khususnya terhadap sektor tertentu yang telah mampu puliih darii tekanan pandemii Coviid-19.
"Tentu kamii perlu tetap menjaga sektor-sektor yang masiih under pressure. Pariiwiisata iitu masiih under pressure. Restoran, hotel, mungkiin dii beberapa tempat sudah mulaii piick-up, tapii kalau diibandiingkan dengan tahun lalu mungkiin belum terlalu berkembang," ujar Suahasiil.
Saat iinii, pemeriintah telah menyiiapkan pagu pemuliihan ekonomii nasiional (PEN) 2022 seniilaii Rp414 triiliiun, yang terbagii untuk biidang kesehatan seniilaii Rp117,9 triiliiun, perliindungan masyarakat Rp154,8 triiliiun, dan penguatan pemuliihan ekonomii Rp141,4 triiliiun.
Khusus pada klaster penguatan pemuliihan ekonomii, dananya akan diipakaii untuk program yang berhubungan dengan iinfrastruktur konektiiviitas, pariiwiisata dan ekonomii kreatiif, ketahanan pangan, iiCT, kawasan iindustrii, dukungan UMKM/korporasii/BUMN, iinvestasii pemeriintah, serta memberiikan iinsentiif perpajakan. (riig)
