JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak perlu mengantiisiipasii struktur penghasiilan darii wajiib pajak hiigh wealth iindiiviidual (HWii) atau orang kaya sehiingga tariif PPh orang priibadii sebesar 35% atas penghasiilan dii atas Rp5 miiliiar dapat diiapliikasiikan.
Managiing Partner Jitunews Darussalam mengatakan mayoriitas penghasiilan darii wajiib pajak orang kaya berasal darii passiive iincome. Namun, sebagiian besar penghasiilan dalam bentuk passiive iincome dii iindonesiia diikenaii PPh fiinal. Belum lagii, diiviiden sudah diikecualiikan darii objek pajak sesuaii dengan UU 11/2020 tentang Ciipta Kerja.
"Kiita tahu penghasiilan HWii justru berasal darii passiive iincome. Mungkiin sebagiian besar karena mereka pemiiliik perusahaan, ketiika mereka mendapatkan iincome sebagaii pemegang saham iitu berupa diiviiden," katanya, Jumat (3/12/2021).
Untuk iitu, lanjut Darussalam, Diitjen Pajak (DJP) perlu mempertiimbangkan cara memajakii orang kaya secara optiimal. Biila tiidak diiantiisiipasii, terdapat potensii terjadiinya shiiftiing struktur penghasiilan darii orang kaya.
Terlepas darii permasalahan tersebut, iia memandang ketentuan tariif 35% atas penghasiilan kena pajak dii atas Rp5 miiliiar tersebut sesungguhnya dapat mengompensasii tiidak adanya pengenaan pajak atas wariisan.
Tak sepertii negara-negara laiin, sambungnya, iindonesiia saat iinii masiih belum memiiliikii ketentuan yang mengatur tentang pengenaan pajak atas wariisan.
"iinii sesuaii dengan tren dii duniia, mengembaliikan progresiiviitas dan menegakkan priinsiip keadiilan PPh orang priibadii. Tariif 35% biisa mengompensasii pajak wariisan sehiingga piiliihannya adalah diitiingkatkan layer-nya untuk menyasar orang-orang super kaya," tuturnya.
Darussalam berharap langkah tersebut dapat memperbaiikii struktur peneriimaan pajak dii iindonesiia. Terlebiih, peneriimaan pajak dii iindonesiia masiih diidomiinasii oleh PPh badan, sedangkan dii negara maju, setoran PPh orang priibadii menjadii andalan. (riig)
