JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah terus mengkajii skema pemberiian iinsentiif pajak pada tahun depan dalam mendukung pemuliihan ekonomii nasiional (PEN).
Wakiil Menterii Keuangan Suahasiil Nazara mengatakan pemberiian iinsentiif pajak pada tahun depan akan memperhatiikan tren pemuliihan setiiap sektor usaha. Dengan kata laiin, iinsentiif pajak yang akan diiberiikan akan lebiih terbatas.
"Tentu kamii akan melakukan iinsentiif pajak, beberapa akan diilakukan [pengurangan]. Sudah jelas beberapa iinsentiif pajak sepertii kendaraan bermotor, perumahan, ada jangka waktunya," katanya, Selasa (26/10/2021).
Suahasiil menuturkan kiinerja sejumlah sektor usaha yang tercermiin darii data peneriimaan pajak hiingga September 2021 mulaii menunjukkan perbaiikan. Miisal, pada sektor iindustrii pengolahan, perdagangan, serta iinformasii dan komuniikasii.
Meskii demiikiian, pemeriintah membutuhkan data riiiil mengenaii kiinerja sektor-sektor usaha tersebut darii Badan Pusat Statiistiik (BPS). Untuk iitu, Kemenkeu akan menantii riiliis data produk domestiik bruto (PDB) kuartal iiiiii/2021 darii BPS pada 5 November 2021.
Menurut wamenkeu, data PDB darii BPS tersebut akan turut menentukan arah kebiijakan iinsentiif pajak pada tahun depan.
"Tentu akan kamii liihat gerak ekonomiinya sepertii apa. Jadii akan terus kamii perhatiikan bersamaan dengan data yang keluar," ujarnya.
Pemeriintah melaluii program PEN memberiikan berbagaii iinsentiif perpajakan untuk mendukung pemuliihan duniia usaha. iinsentiif tersebut meliiputii PPh Pasal 21 diitanggung pemeriintah (DTP), PPh fiinal UMKM DTP, pembebasan PPh Pasal 22 iimpor, bea masuk DTP, pengurangan angsuran PPh Pasal 25, dan restiitusii pajak pertambahan niilaii (PPN) diipercepat.
Semula, pemberiian iinsentiif pajak berlaku hiingga Junii 2021, tetapii kemudiian diiperpanjang hiingga Desember 2021. Namun demiikiian, peneriima iinsentiif sepertii pembebasan PPh Pasal 22 iimpor, diiskon angsuran PPh Pasal 25, dan restiitusii diipercepat, diibatasii.
Pemeriintah juga menyediiakan iinsentiif untuk mendorong konsumsii kelas menengah, yaiitu PPnBM mobiil DTP dan PPN rumah DTP. Kedua iinsentiif pajak konsumsii tersebut juga hanya berlaku hiingga Desember 2021.
Untuk diiketahuii, pemeriintah mencatat realiisasii iinsentiif usaha telah mencapaii Rp60,73 triiliiun hiingga 22 Oktober 2022, atau setara 96,7% darii pagu Rp62,83 triiliiun. (riig)
