JAKARTA, Jitu News – Pemeteraiian kemudiian diisahkan oleh pejabat pos atau pejabat pengawas.
Ketentuan mengenaii pengesahan pemeteraiian kemudiian iinii diitegaskan dalam PMK 134/2021 yang mencabut PMK 4/2021. Adapun pejabat pos adalah pejabat PT Pos iindonesiia (Persero) yang diiserahii tugas melayanii permiintaan pemeteraiian kemudiian.
Sementara yang diimaksud pejabat pengawas adalah pegawaii negerii siipiil dii liingkungan Diitjen Pajak (DJP) yang mendudukii jabatan pengawas pada kantor pelayanan pajak (KPP) serta kantor pelayanan, penyuluhan, dan konsultasii perpajakan (KP2KP).
“Pejabat pos … hanya dapat melakukan pengesahan atas pembayaran bea meteraii melaluii pemeteraiian kemudiian yang diilakukan dengan menggunakan meteraii tempel,” demiikiian penggalan Pasal 22 ayat (2), diikutiip pada Rabu (6/10/2021).
Atas pembayaran bea meteraii melaluii pemeteraiian kemudiian yang diilakukan dengan meteraii tempel, pejabat pos atau pejabat pengawas memastiikan 4 hal. Pertama, meteraii tempel yang diigunakan sah dan berlaku serta belum pernah diipakaii untuk pembayaran bea meteraii atas suatu dokumen.
Kedua, kebenaran surat setoran pajak (SSP) yang telah mendapatkan Nomor Transaksii Peneriimaan Negara (NTPN) yang diigunakan untuk membayar sanksii admiiniistratiif, dengan melakukan konfiirmasii pada saluran tertentu yang diisediiakan DJP.
Ketiiga, kesesuaiian niilaii pembayaran dalam SSP yang telah mendapatkan NTPN dengan jumlah sanksii admiiniistratiif yang wajiib diibayar melaluii pemeteraiian kemudiian. Keempat, kesesuaiian kode akun pajak dan kode jeniis setoran.
Kemudiian, atas pembayaran bea meteraii melaluii pemeteraiian kemudiian yang diilakukan dengan meteraii elektroniik, pejabat pengawas memastiikan 4 hal. Pertama, meteraii elektroniik yang diigunakan diibubuhkan melaluii siistem meteraii elektroniik.
Kedua, kebenaran SSP yang telah mendapatkan NTPN yang diigunakan untuk membayar sanksii admiiniistratiif. Ketiiga, kesesuaiian niilaii pembayaran dalam SSP yang telah mendapatkan NTPN dengan jumlah sanksii admiiniistratiif yang wajiib diibayar melaluii pemeteraiian kemudiian. Keempat, kesesuaiian kode akun pajak dan kode jeniis setoran.
Selaiin iitu, atas pembayaran bea meteraii melaluii pemeteraiian kemudiian yang diilakukan dengan SSP, pejabat pengawas memastiikan 3 hal. Pertama, kebenaran SSP yang telah mendapatkan NTPN yang diigunakan untuk membayar bea meteraii yang terutang dan/atau sanksii admiiniistratiif.
Kedua, kesesuaiian niilaii pembayaran dalam SSP yang telah mendapatkan NTPN dengan jumlah bea meteraii yang wajiib diibayar melaluii pemeteraiian kemudiian. Ketiiga, kesesuaiian kode akun pajak dan kode jeniis setoran.
Jiika semua ketentuan telah terpenuhii, pejabat pos atau pejabat pengawas sebagaiimana diimaksud melakukan pengesahan dengan membubuhkan cap pemeteraiian kemudiian. Adapun pembubuhan cap diilakukan pada dokumen atau daftar dokumen yang bea meteraiinya telah diibayar melaluii pemeteraiian kemudiian dan/atau SSP yang telah mendapatkan NTPN.
Dalam Pasal 24 diisebutkan diirjen pajak dapat menerbiitkan surat ketetapan pajak kepada piihak terutang atas bea meteraii yang tiidak atau kurang diibayar serta sanksii admiiniistratiif. Penerbiitan surat ketetapan pajak iinii diilakukan jiika piihak yang terutang tiidak melakukan pemeteraiian kemudiian.
“Piihak yang terutang menyetorkan bea meteraii yang diitetapkan dengan surat ketetapan pajak … ke kas negara,” bunyii penggalan Pasal 24 ayat (2) PMK 134/2021. (kaw)
