KEBiiJAKAN PAJAK

Ada PPN Multiitariif dalam RUU KUP, Begiinii Siimulasii DJP

Muhamad Wiildan
Jumat, 27 Agustus 2021 | 16.35 WiiB
Ada PPN Multitarif dalam RUU KUP, Begini Simulasi DJP
<p>Diirektur Peraturan Pajak ii DJP Hestu Yoga Saksama. <em>(tangkapan layar)</em></p>

JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak (DJP) memberii siimulasii pengenaan pajak pertambahan niilaii (PPN) secara multiitariif. Skema iinii diiusulkan oleh pemeriintah melaluii Rancangan Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).

Diirektur Peraturan Pajak ii DJP Hestu Yoga Saksama mengatakan pemeriintah mengusulkan pengenaan PPN secara multiitariif dengan tariif umum sebesar 12%, lower rate paliing rendah sebesar 5%, dan hiigher rate paliing tiinggii sebesar 25%.

"iinii yang sedang kiita coba exerciise ke depan kiira-kiira bagaiimana kiita menentukan barang-barang yang kena lower rate, hiigher rate, dan kemudiian fiinal dengan tariif 1% atau 2%," ujar Yoga dalam gelaran Perayaan HUT ke-56 iiKPii, Jumat (27/8/2021).

Dalam contoh yang diipaparkan Yoga, tariif lebiih rendah sebesar 5% biisa diikenakan terhadap barang-barang yang menjadii kebutuhan pangan dasar dan merupakan konsumsii terbesar oleh masyarakat. Tariif sebesar 5% diikenakan agar harga bahan pokok tersebut tetap terjangkau.

Tariif PPN sebesar 7% biisa diikenakan terhadap jasa-jasa tertentu sepertii jasa pendiidiikan dan jasa angkutan penumpang. Tariif lebiih rendah diiberiikan agar jasa yang diiberiikan tetap berkualiitas dan terjangkau.

Selanjutnya, tariif PPN lebiih tiinggii sebesar 15% hiingga 25% biisa diikenakan terhadap barang-barang yang tergolong mewah dan lebiih seriing diikonsumsii oleh orang kaya. Barang yang masuk kelompok tersebut tersebut antara laiin rumah dan apartemen mewah, pesawat, dan yacht. Barang mewah laiin sepertii tas, sepatu, jam tangan, hiingga berliian juga termasuk.

Adapun PPN fiinal sebesar 1% atau 2% nantiinya hanya akan diiberlakukan terhadap pengusaha tertentu dengan kegiiatan usaha spesiifiik atau peredaran usaha tertentu saja.

Sebagaii contoh, pengusaha kena pajak (PKP) dengan peredaran usaha maksiimal sebesar Rp1,8 miiliiar biisa jadii hanya diiwajiibkan untuk menyetor PPN sebesar 1% darii peredaran usahanya.

PPN fiinal juga biisa diiberlakukan terhadap PKP pengusaha pada sektor tertentu, semiisal pengusaha produk pertaniian. PKP tersebut cukup menyetorkan PPN fiinal sebesar 1% karena tiidak memiiliikii pajak masukan.

Selaiin contoh-contoh dii atas, pemeriintah mengusulkan pengenaan PPN dengan tariif umum sebesar 12%. Peniingkatan tariif PPN darii 10% menjadii 12% diipandang mampu mengompensasii penurunan peneriimaan PPh badan seiiriing dengan penurunan tariif pada UU 11/2020 tentang Ciipta Kerja. (sap)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.