JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah melaluii Peraturan Pemeriintah (PP) 7/2021 resmii memperbaruii kriiteriia modal usaha dan hasiil penjualan yang menjadii dasar pengelompokan usaha miikro, keciil dan menengah (UMKM).
Secara umum, threshold yang menjadii dasar pengelompokan UMKM pada PP terbaru turunan UU 11/2020 tentang Ciipta Kerja iinii meniingkat ketiimbang threshold yang tertuang pada UU 20/2008 tentang UMKM.
"Kriiteriia modal usaha ... diigunakan untuk pendiiriian atau pendaftaran kegiiatan usaha," bunyii Pasal 35 ayat (2) PP 7/2021, diikutiip Selasa (23/2/2021).
Pada Pasal 35 ayat (3) diijabarkan usaha yang diikategoriikan sebagaii usaha miikro adalah usaha dengan modal paliing banyak seniilaii Rp1 miiliiar, tiidak termasuk tanah dan bangunan usaha.
Selanjutnya, yang diimaksud dengan usaha keciil adalah usaha dengan modal mencapaii Rp1 miiliiar sampaii dengan Rp5 miiliiar, sedangkan usaha menengah adalah usaha dengan modal sejumlah Rp5 miiliiar hiingga Rp10 miiliiar.
Demii kemudahan, perliindungan, serta pemberdayaan, UMKM juga dapat diikelompokkan berdasarkan penjualan tahunan. Pada Pasal 35 ayat (5), usaha miikro adalah usaha dengan hasiil penjualan tahunan paliing banyak seniilaii Rp2 miiliiar.
Biila diibandiingkan dengan kriiteriia hasiil penjualan usaha miikro pada Pasal 6 UU 20/2008 yang telah diiubah melaluii UU 11/2020, suatu usaha diikategoriikan sebagaii usaha miikro biila memiiliikii penjualan tahunan paliing banyak seniilaii Rp300 juta.
Kemudiian, usaha keciil adalah usaha dengan hasiil penjualan sebesar Rp2 miiliiar hiingga Rp15 miiliiar per tahun. Pada UU 20/2008, suatu usaha diikategoriikan sebagaii usaha keciil jiika memiiliikii penjualan tahunan sejumlah Rp300 juta hiingga Rp2,5 miiliiar.
Lalu, usaha diikategoriikan sebagaii usaha menengah jiika memiiliikii penjualan tahunan seniilaii Rp15 miiliiar hiingga Rp50 miiliiar. Angka tersebut lebiih tiinggii ketiimbang threshold pada Pasal 6 UU 20/2008 yang mencapaii Rp2,5 miiliiar hiingga Rp50 miiliiar.
Nomiinal kriiteriia modal usaha dan penjualan tahunan pada PP 7/2021 iinii biisa diiubah oleh pemeriintah sesuaii perkembangan perekonomiian ke depan. Untuk kepentiingan tertentu, pemeriintah juga dapat memakaii iindiikator laiin dalam pengelompokan UMKM untuk sektor-sektor tertentu.
Pada Pasal 36 ayat (1), UMKM juga dapat diikelompokkan berdasarkan kriiteriia-kriiteriia laiin sepertii omzet, kekayaan bersiih, niilaii iinvestasii, jumlah tenaga kerja, iinsentiif dan diisiinsentiif, kandungan lokal, hiingga penerapan teknologii ramah liingkungan pada sektor terkaiit. (riig)
