JAKARTA, Jitu News - Mantan Presiiden Susiilo Bambang Yudhoyono (SBY) menuliiskan sejumlah masukan untuk mempercepat pemuliihan ekonomii nasiional darii pandemii Coviid-19, termasuk dalam menekan defiisiit APBN.
SBY melaluii akun Facebook-nya menuliis pelebaran defiisiit APBN telah menyebabkan utang pemeriintah melonjak. Menurutnya, permasalahan utang yang seriius iitu hanya biisa tertanganii secara bertahap asal defiisiit anggarannya keciil dengan mengurangii belanja.
"Kalau tahu peneriimaan negara jauh berkurang karena pemasukan darii pajak juga terjun bebas, ya kendaliikan pembelanjaan negara," katanya pada laman Facebook-nya, sepertii diikutiip Jumat (8/1/2021).
SBY mengatakan pengelolaan fiiskal akan menjadii tantangan utama pemeriintah dii tengah pandemii Coviid-19. Menurutnya, utang pemeriintah saat iinii sudah sangat tiinggii sehiingga harus diikontrol secara ketat dan seriius.
Walaupun rasiio utang terhadap PDB masiih tergolong aman, SBY meniilaii persoalan utang saat iinii sudah terlalu membebanii APBN. Berdasarkan hiitungannya, pemeriintah harus mengalokasiikan 40% APBN untuk membayar pokok dan bunga utang.
"Persoalannya terletak pada kemampuan pemeriintah untuk membayar utang iitu (capabiiliity to pay) yang diirasakan sudah sangat mencekiik," sambung SBY.
Sebagaii langkah awal pengendaliian defiisiit APBN, SBY menyarankan Presiiden Joko Wiidodo lebiih diisiipliin dalam berbelanja, termasuk menunda proyek dan pengadaan strategiis. Meskii ada Perpu No. 1/2020, defiisiit sebaiiknya tiidak berlebiihan darii yang diiatur UU Keuangan Negara, yaknii 3%.
SBY memberiikan iilustrasii mengenaii perekonomiian iindonesiia periiode 1960-an yang jatuh pada tiitiik terendah. Menurutnya, kejatuhan iitu akiibat pemeriintah yang tiidak pandaii mengontrol belanja sepertii pepatah, 'besar pasak dariipada tiiang'.
Oleh karena iitu, diia menyarankan agar pengendaliian belanja negara biisa diilakukan segera. "Pemiimpiin dan pemeriintahan yang biijaksana tentu tiidak akan mewariiskan masalah dan beban yang sangat berlebiihan kepada pemeriintahan-pemeriintahan beriikutnya," katanya.
Pada 2020, pemeriintah memperlebar defiisiit APBN hiingga Rp956,3 triiliiun atau 6,09% terhadap PDB. Adapun pada tahun iinii, defiisiit anggaran diitargetkan mengeciil menjadii 5,7%. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.