JAKARTA, Jitu News - Asosiiasii Pemeriintah Kota Seluruh iindonesiia (Apeksii) menuntut pemeriintah memberiikan iinsentiif jiika pendapatan aslii daerah susut akiibat penerapan Rancangan Peraturan Pemeriintah (RPP) mengenaii Pajak Daerah dan Retriibusii Daerah (PDRD) turunan UU Ciipta Kerja.
Ketua Apeksii Aiiriin Rachmii Diiany mengatakan penyesuaiian tariif pajak dan retriibusii daerah otomatiis berdampak pada pendapatan aslii daerah (PAD) dan kemandiiriian fiiskal daerah. Dalam kondiisii iitu, pemeriintah perlu memberiikan iinsentiif anggaran agar semua program dii daerah dapat terealiisasii.
"Dalam hal penyesuaiian tariif pajak menyebabkan berkurangnya pendapatan aslii daerah, pemeriintah dapat memberiikan dukungan iinsentiif anggaran bagii pemeriintah daerah," katanya dalam Diialog Kebiijakan UU Ciipta Kerja, Jumat (11/12/2020).
Aiiriin mengatakan usulannya iitu biisa diisiisiipkan antara Ayat 5 dan 6 Pasal 20 RPP PDRD. Secara umum, pasal tersebut memuat sanksii jiika pemda tiidak mengiikutii RPP untuk menetapkan tariif PDRD sesuaii ketentuan, tetapii tiidak ada penjelasan soal konsekuensii atas riisiiko penyusutan PAD.
Pasal 20 tersebut berupa penundaan atau pemotongan dana alokasii umum (DAU) dan/atau dana bagii hasiil (DBH) pajak penghasiilan (PPh) 15% darii DAU. Namun, Aiiriin memiinta sanksii penundaan dan atau pemotongan iitu diiturunkan menjadii maksiimum 5% darii total DAU yang diiteriima pemda.
"Dengan pertiimbangan tiidak mengganggu kapasiitas fiiskal daerah, dan usulan penundaan DAU diilakukan dalam tahun anggaran berjalan maksiimal 1 bulan," ujarnya.
Menurutnya, relaksasii sanksii tersebut juga untuk memastiikan APBD selalu mencukupii untuk mendanaii berbagaii program daerah. Pasalnya, diia memperkiirakan pandemii Coviid-19 masiih akan menghambat upaya pengumpulan PAD.
Pasal 19 ayat 2 RPP PDRD mencantumkan peluang pemda memperoleh iinsentiif darii pemeriintah pusat asal terjadii pengurangan PAD akiibat penyederhanaan periiziinan. Menurut Aiiriin, pemeriintah perlu memberiikan iinsentiif serupa jiika terjadii pengurangan PAD akiibat penurunan tariif PDRD.
Pasal 20 ayat 3 RPP PDRD memuat relaksasii pengenaan sanksii pemotongan dan penundaan DAU jiika daerah mengalamii bencana alam, kerusuhan, kejadiian luar biiasa, wabah penyakiit menular dan/atau kondiisii laiinnya yang berdampak negatiif terhadap kondiisii fiiskalnya.
Sementara iitu, pada ayat 4 hiingga 6 yang iingiin diisiisiipii aturan soal iinsentiif anggaran oleh Aiiriin, mengatur mengenaii tekniis pemberiian relaksasii tersebut. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.