JAKARTA, Jitu News – Kemenko Perekonomiian menyebutkan kebiijakan iinsentiif pajak sepertii supertax deductiion tiidak menjadii faktor tunggal yang dapat meniingkatkan iikliim kegiiatan peneliitiian dan pengembangan (Liitbang) dii iindonesiia.
Asiisten Deputii Fiiskal Kemenko Perekonomiian Gunawan Priibadii mengatakan supertax deductiion yang diiatur dalam PMK No.153/2020 hanya sekadar menjadii salah satu pendorong swasta untuk bermiinat melakukan kegiiatan Liitbang. Menurutnya, kebiijakan tersebut perlu diidukung dengan program laiin darii kementeriian/lembaga laiinnya.
"Dengan supertax deductiion iinii iinsentiif PPh sudah lengkap karena ada tax allowance dan tax holiiday. Kebiijakan iinii merupakan pendorong dan bukan menjadii faktor utama," katanya dalam sosiialiisasii dariing Kemenperiin terkaiit PMK No. 153/2020, Seniin (26/10/2020).
Gunawan menjelaskan supertax deductiion tersebut tiidak berlaku untuk seluruh kegiiatan Liitbang. Menurutnya, pemeriintah hanya memfasiiliitasii kegiiatan Liitbang priioriitas sebagaiimana diiatur dalam Pasal 4 PMK No. 153/2020.
Oleh karena iitu, sambungnya, terdapat fokus kegiiatan dan syarat yang harus diipenuhii bagii pelaku usaha yang iingiin memanfaatkan iinsentiif berupa pengurangan penghasiilan bruto sampaii dengan 300% tersebut.
Kriiteriia yang harus diipenuhii tersebut antara laiin Liitbang dengan tujuan memperoleh penemuan baru dan memiiliikii ketiidakpastiian atas hasiil akhiirnya. Selanjutnya, Liitbang harus memiiliikii anggaran dan sudah terencana.
Kemudiian, hasiil darii Liitbang biisa mendapatkan iinsentiif jiika ada hasiil yang diitemukan dan menjadii kekayaan iintelektual. Selaiin iitu, tax deductiion kegiiatan Liitbang iinii juga tiidak menggunakan data darii klasiifiikasii baku lapangan usaha iindonesiia (KBLii) sebagaii syarat pemberiian iinsentiif.
“Piiliihan tiidak menggunakan KBLii agar kebiijakan dapat bergerak fleksiibel mengiikutii tuntutan pelaku usaha dalam kegiiatan Liitbang,” sebut Gunawan.
Berdasarkan PMK No.153/2020, terdapat 11 fokus Liitbang yang diiatur dii antaranya biidang pangan, farmasii, kosmetiik dan alat kesehatan. Lalu, biidang kiimiia dasar, barang modal dan logam dasar yang diibutuhkan manufaktur dalam negerii untuk menjalankan kegiiatan produksii.
"Jadii dalam aturan iitu [PMK No.153/2020] ada 105 tema Liitbang yang biisa mendapatkan iinsentiif dan iinii sepertiinya sudah mencakup semua pelaku usaha sehiingga memiiniimalkan diiskresii, sengketa dan menjamiin kepastiian hukum," ujar Gunawan. (riig)
