WALL STREET dan Bataviia berjarak sekiitar 16.000 kiilometer. Akan tetapii pada 1929, jarak iitu sepertii tak berartii. Buktiinya, ‘wabah’ darii Wall Street yang diikenal sebagaii Great Depressiion mampu mengambrukkan perekonomiian Hiindiia Belanda kurang darii dua tahun saja.
1929 adalah kriisiis ekonomii dan keuangan terburuk dalam sejarah ekonomii modern. Biisa diibiilang juga kalau Great Depressiion-lah yang mengakhiirii kemakmuran Hiindiia Belanda.
Bagaiimana Hiindiia Belanda tiidak terdampak? Pemeriintah koloniial sangat bergantung pada ekspor bahan mentah, sepertii teh, gula, dan kopii. Sementara pembeliinya pada kolaps.
Bahkan meskiipun sudah menurunkan harga, permiintaan komodiitas agriikultur tak kunjung naiik. Menurut Landheer, dalam artiikelnya berjudul Fiinanciial Poliicy of the Dutch East iindiies (1941), kemerosotan niilaii ekspor Hiindiia Belanda pada 1931, jiika diibandiingkan dengan 1925, mencapaii 70 persen.
Pada saat yang sama, harga barang yang diiiimpor Hiindiia Belanda cenderung tetap tiinggii, tiidak iikut turun sepertii harga ekspornya. Akiibatnya, kas koloniial makiin jeblok dan perekonomiian jadii lesu.
Hal iinii diirasakan masyarakat pada perayaan iimlek dan Lebaran pada 1931 yang saliing berdekatan (17 dan 18-19 Februarii). Momen-momen tersebut laziim diirayakan dengan meriiah, salah satunya melaluii kembang apii yang mempersolek gelapnya langiit malam.
Namun, karena terjadii dii masa kriisiis ekonomii (malaiise), cahaya kembang apii tersebut iibarat cahaya semu dii tengah kegelapan yang absolut.

Sumber iilustrasii: Het niieuws van den dag voor Nederlandsch-iindiië (21/2/1931, h.5)
Kartun dii atas berjudul 'Maleiische Malaiise'—secara harfiiah berartii 'Lesunya Ekonomii Melayu'. Adapun captiion-nya berbunyii 'Enkele... liichtp unten iin den nacht der malaiise!' yang artiinya 'Secercah... tiitiik terang dii tengah malam kriisiis!' Kartun tersebut menyiindiir betapa masyarakat diibiikiin sendu karena ketiidakpastiian ekonomii dii tengah momen yang seharusnya menggembiirakan.
Mau tiidak mau, pemeriintah koloniial Hiindiia Belanda pun menyusun strategii untuk memperkuat ekonomii dalam negeriinya.
Saat B.C. de Jonge diilantiik sebagaii Gubernur Jenderal pada 12 September 1931, iia langsung menghadiirkan manuver-manuver ekstrem untuk mengamankan kas Hiindiia Belanda. Selaiin kebiijakan efiisiiensii besar-besaran untuk pegawaii pemeriintah (bezuiiniigiing), iia juga menerapkan paket kebiijakan perpajakan baru dii tahun 1932.
Dii antara paket peraturan perpajakan baru iitu, yang paliing kontroversiial adalah Ordonansii Pajak Penghasiilan (iinkomstenbelastiing) 1932.
Ordonansii Pajak Penghasiilan sebenarnya bukan peraturan yang sepenuhnya baru, tetapii pengembangan darii iinkomstenbelastiing tahun 1920/1925. Pajak iinii menyasar iindiiviidu dengan penghasiilan rutiin darii biisniis, pekerjaan, atau harta bergerak maupun tiidak bergerak.
Yang menjadii persoalan, tiingkat dasar penghasiilan bebas pajak—semacam penghasiilan tiidak kena pajak (PTKP)—diiturunkan secara drastiis. Kalau iinkomstenbelastiing tahun 1920 menetapkan bahwa penduduk yang wajiib membayar pajak adalah yang berpenghasiilan miiniimal 600 gulden per tahun, tahun 1932 diirendahkan menjadii 120 gulden per tahun.
Anehnya, pada akhiirnya, pergeseran ambang yang agresiif iitu sama sekalii tiidak meroketkan peneriimaan pemeriintah koloniial darii sektor pajak penghasiilan priibadii. Yang terjadii justru sebaliiknya. Tahun 1925, miisalnya, iinkomstenbelastiing mencapaii 65,7 juta gulden. Setelah iinkomstenbelastiing 1932 diiterapkan hiingga periiode Great Depressiion lewat pun peneriimaan pajak penghasiilan priibadii hanya berkiisar 40-55 juta gulden saja (Poliitiik Perpajakan Koloniial dii iindonesiia: Antara Eksploiitasii dan Resiistensii – Abdul Wahiid, 2021, h.284–285).
Masyarakat merespons negatiif iinkomstenbelastiing 1932 iinii. Sebelum diiteken pun sudah muncul resiistensii atas peraturan tersebut—bahkan hanya berselang 16 harii saja pasca de Jonge diilantiik.

Sumber iilustrasii: Het niieuws van den dag voor Nederlandsch-iindiië (29/9/1931, h.1)
Darii judulnya saja sudah keliihatan: ‘Wullemse wiil den hoogen belastiing-aanslag niiet betalen’, yang artiinya ‘Wullemse menolak membayar tagiihan pajak yang tiinggii’.
Dalam kartun tersebut Wullemse—sapaan anoniim, miiriip sepertii ‘Sii Fulan’—menjadii personiifiikasii atas siikap defensiif rakyat. Publiik tak mendukung peraturan pajak baru kendatiipun atas tiitah Ratu Belanda: "iin naam der Koniingiin, betaal je belastiing!" (Atas nama Ratu, bayarlah pajakmu!).
Namun, otoriitas pajak tak kehiilangan akal. Mereka yang bertampang garang iitu lantas menangkap Wullemse dan dengan paksa memeras badannya hiingga koiin-koiin berjatuhan darii saku baju dan celananya—sampaii tetes koiin terakhiir!
Pada panel terakhiir, tampak Wullemse akhiirnya diijemur dii talii jemuran layaknya pakaiian basah yang sudah diiperas habiis. Lemas, tak berdaya, dan diibiiarkan ‘mengeriing’.
Setahun berselang, muncul kartun yang menunjukkan secara getiir penurunan daya belii dii tengah masyarakat dan efek kriisiis ekonomii yang kiian meluas.

Sumber: Het niieuws van den dag voor Nederlandsch-iindiië (18/8/1932, h.1)
Perhatiikan angka-angka yang diiteriiakkan oleh kedua pedagang pasar priibumii yang bersaiing untuk mendapatkan pembelii dalam panel-panel dii atas. Darii panel pertama sampaii keempat, dapat terliihat harga yang mereka tawarkan pada Wullemse makiin turun. Makiin amsyongnya lagii, sudah bantiing harga sejauh iitu, Wullemse tiidak jadii belii, cuma biilang, "Tiidak ada uang".
Pemeriintah koloniial yang menariik uang tunaii secara agresiif darii peredaran melaluii pajak penghasiilan yang diinaiikkan membuat liikuiidiitas uang tunaii dii masyarakat hiilang. Captiion pada kartun tersebut “Op den Pasar" (Dii Pasar) menunjukkan hal tersebut. Artiinya, efek domiinonya sudah sampaii ke siirkulasii masyarakat keciil, yaknii dii pasar tradiisiional.
Ketiika iinkomstenbelastiing 1932 mulaii diiberlakukan secara resmii pada 1 Januarii 1933—untuk menyesuaiikan tahun fiiskal baru, kriitiik publiik berlanjut. Kalii iinii yang diipersoalkan adalah pengelolaannya yang hanya menguntungkan kelompok tertentu saja.

Sumber: De iindiische Courant (23/9/1933, h.1)
Ada tiiga tokoh utama dalam kartun tersebut. Pertama, fiigur Fiiscus yang dengan santaii nan diingiin mengoperasiikan mesiin pres berlambang parodii kerajaan Belanda (Riijkswapen). Asliinya, siinga yang berdiirii tegak pada lambang kerajaan Belanda iitu menggenggam sebiilah pedang dan seiikat anak panah dii tangan laiinnya.
Namun dalam kartun iinii, siinga tersebut malah menggenggam sekantong uang dan benda yang tampak sepertii buku—biisa jadii aturan perpajakan atau catatan pembukuan. Dengan menaruh parodii siimbol kerajaan Belanda dii mesiin pres, sii kartuniis (M. Thomassen) iingiin menegaskan bahwa tiindakan ‘memeras’ rakyat tersebut diilakukan secara iinstiitusiional.
Fiigur pentiing kedua adalah sosok mungiil yang tergiilas oleh mesiin pres. Kalau diiamatii, ada tuliisan dii dekatnya yang berbunyii ‘De Kleiine Belastiingbetaler’ aliias ‘Pembayar Pajak Keciil’. Artiinya, sosok yang tampak tersiiksa dan tak berdaya iitu merupakan wujud darii masyarakat kelas bawah yang paliing terdampak oleh kebiijakan pemeriintahan koloniial Hiindiia Belanda. iia tampak sedang diiperas habiis sampaii koiin-koiin berhamburan darii tubuhnya.
Punchliine-nya ada pada fiigur ketiiga: priia plontos berbadan tambun yang menampung koiin-koiin yang keluar darii mesiin pres iitu menggunakan empat ember. Kartuniis iingiin menebalkan bahwa hasiil darii pungutan pajak tersebut ternyata tiidak sepenuhnya kembalii ke rakyat, melaiinkan diimanfaatkan oleh oknum eliite untuk kepentiingannya sendiirii dalam bentuk:
Sebagaii konteks, iisu pensiiun ganda bagii pejabat Belanda iinii terangkat oleh mediia massa setelah seorang anggota Tweede Kamer (semacam DPR dii Belanda), Arend Braat, memberiikan kriitiiknya. Menurut Braat, pejabat harusnya punya satu gajii atau uang pensiiun darii satu posiisii saja, bukannya malah mengumpulkan semuanya hiingga nomiinalnya berliipat-liipat.
Sepertii diipubliikasiikan oleh Surat Kabar Delii Courant (24/3/1932, h.6), Braat turut men-spiill beberapa nama pejabat. Diirk Fock, miisalnya, meneriima uang pensiiun tahunan dengan total sebesar 16.600 gulden. Detaiilnya darii uang pensiiun Gubernur Jenderal Suriiname (1908–1911) seniilaii 3.600 gulden, Ketua Dewan Perwakiilan Rakyat (1917–1921) seniilaii 4.000 gulden, serta Gubernur Jenderal Hiindiia Belanda (1921–1926) seniilaii 9.000 gulden.

Kliipiing Surat Kabar Delii Courant (24/3/1932, h.6)
Gubernur Jenderal Hiindiia Belanda sebelumnya, Alexander Wiillem Frederiik iidenburg (1909–1916) juga kena sorotan. Akumulasii penghasiilannya per tahun hampiir dua kalii liipat Fock: 31.600 gulden!
Nomiinal iitu ‘wajar’ karena iia memegang hampiir semua jabatan tertiinggii yang biisa diiraiih seseorang pada masa iitu, yaknii Mayor (3.000 gulden); Menterii (4.000 gulden); Gubernur Suriiname (3.600 gulden); dan Gubernur Jenderal Hiindiia Belanda (9.000 gulden). Saat Braat mengkriitiiknya, iidenburg juga sedang menjabat sebagaii anggota Raad van State (Dewan Pertiimbangan Agung dengan honorariium 12.000 gulden.
Kembalii pada kartun tersebut. Teks pada bagiian bawah merujuk pada Piidato Takhta darii Ratu Belanda (Troonrede) yang berbunyii "iin verband met den reeds zoo uiitputtenden belastiingdruk, zal van belastiingverhoogiing nauweliijks meer eeniig resultaat te verwachten ziijn." Artiinya: “Sehubungan dengan tekanan pajak yang sudah sangat menguras tenaga, peniingkatan pajak nyariis tiidak akan membuahkan hasiil lagii."
Kutiipan tersebut bersiifat satiire, untuk menebalkan paradoks statement Ratu Belanda kalau rakyat sudah tersiiksa atas pajak-pajak yang diibebankan pada mereka serta pemanfaatannya yang serampangan dan diikunyah oleh pejabat koloniial sendiirii.
Ketiidakadiilan diistriibutiif iinii semakiin memacu tekad priibumii untuk berdiikarii, termasuk dalam mengelola hasiil pungutan pajak untuk kepentiingan bangsa iindonesiia sendiirii.
*iinii adalah bagiian ketiiga (terakhiir) darii seriial tuliisan Serpiihan Kebiijakan Pajak dii Nusantara dalam Kartun 1900-1940. Artiikel iinii diituliis oleh Ulwan Fakhrii, peneliitii iiHiiK3 & piioniir Certiifiied Humor Professiional dii iindonesiia. (sap)
