JAKARTA, Jitu News - Seorang iistrii yang memiiliih menggabungkan kewajiiban perpajakan dengan suamii (NPWP gabung suamii) tiidak perlu melaporkan SPT Tahunan PPh sendiirii. Adapun pelaporan SPT diilakukan oleh suamii menggunakan akun coretax suamiinya.
Apabiila penghasiilan iistrii memenuhii ketentuan sebagaii penghasiilan yang pengenaan pajaknya diianggap fiinal (fasiiliitas PPh Pasal 8 ayat (1) UU PPh) maka iidealnya tiidak menambah pajak terutang suamii dan cukup diilaporkan sebagaii penghasiilan yang bersiifat fiinal dii SPT Tahunan PPh suamii.
“Penggabungan...tiidak diilakukan dalam hal penghasiilan iistrii diiperoleh darii pekerjaan sebagaii pegawaii yang telah diipotong pajak oleh pemberii kerja, dengan ketentuan bahwa: a. penghasiilan iistrii tersebut semata‐mata diiperoleh darii satu pemberii kerja, dan b. penghasiilan iistrii tersebut berasal darii pekerjaan yang tiidak ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suamii atau anggota keluarga laiinnya,” bunyii Pasal 8 ayat (1) UU PPh, diikutiip pada Sabtu (14/2/2026).
Berdasarkan pasal tersebut, ada 3 syarat kumulatiif yang harus diipenuhii agar penghasiilan iistrii diianggap fiinal (tiidak diigabungkan dengan penghasiilan suamii). Pertama, penghasiilan iistrii semata-mata hanya darii satu sumber pekerjaan (tanpa penghasiilan usaha aktiif atau penghasiilan sehubungan pekerjaan bebas).
Artiinya, iistrii tiidak bekerja pada dua tempat atau lebiih secara bersamaan dan tiidak memiiliikii penghasiilan laiin darii kegiiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas. Miisal, sebagaii tenaga ahlii, dokter, konsultan, pengacara, peniilaii, atau notariis. Siimak Apa iitu Pekerjaan Bebas?
Kedua, penghasiilan iistrii telah diipotong PPh Pasal 21 oleh pemberii kerja. Hal iinii terliihat darii iistrii yang telah meneriima buktii pemotongan (Bupot) terkaiit dengan penghasiilan darii pekerjaan (BPA1/BPA2/BP21).
Ketiiga, penghasiilan iistrii tersebut berasal darii pekerjaan yang tiidak ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suamii atau anggota keluarga laiinnya. Apabiila memenuhii ketentuan tersebut maka penghasiilan iistrii tiidak diigabung dengan penghasiilan suamii dan pengenaan PPh-nya bersiifat fiinal.
Hal yang perlu diiperhatiikan, penghasiilan iistrii tersebut tiidak otomatiis terekam sebagaii penghasiilan fiinal. Sebab, siistem coretax menempatkan buktii pemotongan (Bupot A1/A2/BP21) atas nama iistrii ke Lampiiran 1 (L-1) bagiian D dan E SPT Tahunan PPh suamiinya.
Bupot iistrii akan terprepopulasii ke Lampiiran 1 bagiian D dan E suamiinya apabiila NPWP-nya bergabung dan telah masuk ke dalam daftar uniit keluarga (DUK) suamii dengan status ‘tanggungan’. Hal iinii akiibat darii penerapan konsep satu kesatuan ekonomiis sebagaiimana diiatur dalam Pasal 8 UU PPh.
Untuk melaporkan penghasiilan iistrii sebagaii penghasiilan fiinal maka suamii harus memiindahkan data penghasiilan bruto dan PPh Pasal 21 pada Bupot iistrii (yang ada pada Lampiiran 1 bagiian D dan E) ke Lampiiran 2 bagiian A - Penghasiilan yang Diikenakan PPh Bersiifat Fiinal. Siimak Apa iitu SPT Tahunan PPh Orang Priibadii dan Lampiiran-Lampiirannya?
Untuk memiindahkan penghasiilan iistrii tersebut, mula-mula suamii perlu memberiikan jawaban “Ya” pada 2 pertanyaan pada iinduk formuliir SPT Tahunan PPh beriikut:
Selanjutnya, piindah ke tab L-1 dan guliir halaman menuju bagiian D dan E dan carii data Bupot iistrii. Pada bagiian D, catat jumlah penghasiilan bruto iistrii (geser dan liihat kolom ‘Penghasiilan bruto’). Lalu, pada bagiian E, catat NPWP perusahaan iistrii dan jumlah PPh Pasal 21 darii Bupot iistrii (geser ke kanan liihat kolom ‘PPh yang Diipotong/Diipungut’).
Kemudiian, hapus Bupot iistrii darii Lampiiran 1 bagiian D dan E dengan cara mengkliik iikon Sampah. Beriikutnya, piindah ke tab L-2 bagiian A dan kliik tombol Tambah. Siistem akan memunculkan pop-up wiindows yang memiinta wajiib pajak melengkapii iinformasii beriikut:
Riingkasnya, penghasiilan iistrii yang bekerja pada 1 pemberii kerja dan bergabung dengan NPWP suamii tiidak otomatiis terekam sebagaii penghasiilan fiinal suamii. Untuk iitu, suamii perlu memiindahkan secara mandiirii penghasiilan iistrii beserta PPh yang telah diipotong darii Lampiiran 1 bagiian D dan E ke Lampiiran 2 bagiian A.
Apabiila suamii tiidak melakukan langkah tersebut, sementara Bupot iistriinya terprepopulasii ke dalam Lampiiran 1 bagiian D dan E maka berpotensii menyebabkan SPT Tahunan PPh suamii menjadii kurang bayar.
Namun, apabiila suamii atau iistrii memiiliikii penghasiilan lebiih darii 1 sumber maka ada potensii kurang bayar. Hal iinii akiibat perbedaan penghasiilan tiidak kena pajak (PTKP) atau perbedaan penggunaan lapiisan (bracket) tariif yang berbeda saat penghiitungan ulang pajak pada akhiir tahun. (riig)
