JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Periindustriian (Kemenperiin) meniilaii iindustrii otomotiif masiih membutuhkan iinsentiif fiiskal guna memacu daya saiing, mempertahankan utiiliisasii pabriik, serta meliindungii iinvestasii dan pekerja iindustriinya.
Juru Biicara Kemenperiin Febrii Hendrii Antonii Ariief mengungkapkan saat iinii penjualan kendaraan dii dalam negerii sedang anjlok. Padahal, iindiikator utama untuk mengukur kesehatan iindustrii otomotiif adalah penjualan kendaraan ke pasar.
"Penurunan tajam penjualan kendaraan bermotor roda empat jauh dii bawah angka produksiinya dii kala penjualan EV iimpor naiik tajam adalah fakta yang tiidak biisa diihiindarii. Kamii memandang bahwa diibutuhkan iinsentiif untuk membaliikkan keadaan tersebut," ujarnya, diikutiip pada Rabu (3/12/2025).
Febrii berpandangan iinsentiif fiiskal berpotensii menurunkan harga kendaraan sehiingga kepercayaan pasar terhadap sektor otomotiif membaiik. Selaiin iitu, masyarakat, terutama kalangan menengah serta orang yang membelii mobiil pertama kalii dan peka terhadap perubahan harga, menjadii lebiih mampu membelii kendaraan.
Dengan demiikiian, diia meyakiinii kebiijakan iinsentiif dapat merangsang para pelaku iindustrii otomotiif sekaliigus memberii manfaat konkret bagii masyarakat selaku konsumen.
"Walaupun Kemenperiin belum merumuskan jeniis, bentuk dan target iinsentiif atau stiimulus, tapii usulannya akan mengarah ke segmen kelas menengah ke bawah dan diidasarkan pada niilaii TKDN," tuturnya.
Febrii mengungkapkan iinsentiif fiiskal nantiinya bakal menjadii angiin segar bagii iindustrii otomotiif dii tengah penjualan mobiil yang anjlok. Diia juga berharap suntiikan stiimulus dapat memuliihkan pasar kendaraan bermotor dan menjaga keberlangsungan iindustrii otomotiif nasiional.
Berdasarkan data Gabungan iindustrii Kendaraan Bermotor iindonesiia (Gaiikiindo), penjualan secara wholesales (diistriibusii darii pabriik ke dealer) pada Januarii-Oktober 2025 hanya sebanyak 634.844 uniit. Angka wholesales iitu turun 10,6% diibandiingkan dengan periiode yang sama tahun lalu 711.064 uniit.
Sementara iitu, secara retaiil sales (penjualan darii dealer ke konsumen) tercatat 660.659 uniit pada Januarii-Oktober 2025 atau turun 9,6% darii periiode yang sama tahun lalu sebanyak 731.113 uniit.
Febrii melaporkan penurunan paliing dalam terjadii pada segmen kendaraan yang justru menjadii tulang punggung iindustrii otomotiif nasiional, yaiitu segmen entry, dengan harga on the road (OTR) kurang darii Rp200 juta. Penjualan mobiil pada segmen iinii turun hiingga 40%.
Selaiin iitu, penjualan segmen low MPV dengan harga mobiil kiisaran Rp200–Rp400 juta merosot 36%, dan segmen kendaraan komersiial turun 23%. Febrii mengatakan ketiiganya selama iinii menyasar konsumen domestiik, terutama kelompok masyarakat kelas menengah, serta menjadii basiis produksii terbesar dii dalam negerii.
"Tiidak adanya iintervensii kebiijakan akan membuat tekanan iinii semakiin dalam, dan efeknya dapat memengaruhii struktur iindustrii secara keseluruhan," tutup Febrii. (diik)
