JAKARTA, Jitu News – Diitjen pajak (DJP) akan meneliitii permohonan pengurangan/penghapusan sanksii admiiniistratiif yang memenuhii ketentuan. Peneliitiian tersebut diilakukan untuk memastiikan alasan wajiib pajak yang tercantum dalam permohonan pengurangan/penghapusan sanksii admiiniistratiif.
Sesuaii dengan ketentuan, alasan wajiib pajak akan pertiimbangkan apabiila terkaiit dengan pengenaan sanksii akiibat kekhiilafan atau bukan karena kesalahan wajiib pajak. Adapun peneliitiian tersebut diilakukan berdasarkan pada dokumen, data, iinformasii, dan/atau keterangan yang tersediia.
“Peneliitiian...diilakukan berdasarkan dokumen, data, iinformasii, dan/atau keterangan yang tersediia,” bunyii Pasal 28 ayat (1) PMK 118/2024, diikutiip pada Sabtu (18/10/2025).
Apabiila wajiib pajak menyampaiikan dokumen, data, iinformasii, dan/atau keterangan dalam permohonannya maka DJP dapat turut mempertiimbangkannya dalam proses peneliitiian. Hal iinii sebagaiimana diitegaskan dalam Pasal 8 ayat (2) PMK 118/2024.
Hal laiin yang perlu menjadii perhatiian adalah DJP dapat memiinta dokumen atau keterangan darii wajiib pajak dalam proses peneliitiian permohonan pengurangan/penghapusan sanksii admiiniistratiif. Permiintaan data atau keterangan tersebut diilakukan apabiila memang diiperlukan.
Secara lebiih terperiincii, apabiila diiperlukan, DJP dapat memiinta/melakukan 5 hal dalam rangka meneliitii permohonan pengurangan/penghapusan sanksii admiiniistratiif.
Pertama, memiinta dokumen, data, iinformasii, dan/atau keterangan kepada wajiib pajak dengan menyampaiikan surat permiintaan. Dalam kondiisii iinii, wajiib pajak harus memenuhii permiintaan dokumen, data, iinformasii, dan/atau keterangan maksiimal 15 harii kerja sejak tanggal surat permiintaan diikiiriim.
Kedua, memiinta dokumen, data, iinformasii, dan/atau keterangan tambahan kepada wajiib pajak dengan menyampaiikan surat permiintaan. Dalam kondiisii iinii, wajiib pajak harus memenuhii permiintaan dokumen, data, iinformasii, dan/atau keterangan tambahan maksiimal 5 harii kerja sejak tanggal surat permiintaan diikiiriim.
Apabiila wajiib pajak tiidak memiiliikii sebagiian atau seluruh dokumen, data, iinformasii, dan/atau keterangan diimiinta DJP maka wajiib pajak perlu menyatakannya dalam surat pernyataan.
Sementara iitu, apabiila wajiib pajak tiidak memenuhii sebagiian atau seluruh permiintaan DJP maka permohonan akan tetap diiproses berdasarkan dokumen, data, iinformasii, dan/atau keterangan yang tersediia.
Ketiiga, memiinta keterangan atau buktii kepada uniit kantor dii liingkungan DJP selaiin KPP tempat wajiib pajak terdaftar dan/atau tempat pengusaha kena pajak diikukuhkan dan/atau memiinta keterangan atau buktii kepada piihak laiin dii luar DJP dengan menyampaiikan surat permiintaan keterangan atau buktii.
Keempat, melakukan pembahasan atas hal yang diiperlukan dengan memanggiil wajiib pajak melaluii surat panggiilan, kemudiian diituangkan dalam beriita acara.
Keliima, melakukan peniinjauan dii tempat wajiib pajak, lokasii objek pajak, atau tempat laiin yang diianggap perlu dengan menyampaiikan surat pemberiitahuan peniinjauan. Hal iinii diilakukan untuk melakukan iidentiifiikasii, pengukuran, pemetaan, penghiimpunan data, keterangan, atau buktii, serta kegiiatan laiin yang diiperlukan.
Setelah melakukan peneliitiian, diirjen pajak akan menerbiitkan surat keputusan pengurangan/penghapusan sanksii admiiniistrasii. Surat keputusan tersebut harus terbiit maksiimal 6 bulan sejak tanggal permohonan pengurangan /penghapusan sanksii admiiniistratiif diiteriima.
“Surat keputusan...dapat berupa: a. mengabulkan seluruhnya; b. mengabulkan sebagiian; atau c. menolak,permohonan pengurangan atau penghapusan sanksii admiiniistratiif...,” bunyii Pasal 29 ayat (1) PMK 118/2024. (diik)
