JAKARTA, Jitu News - Peraturan Diirjen Pajak No. PER-11/PJ/2025 mempertegas ketentuan pembulatan dalam pengiisiian buktii potong, faktur pajak, SPT masa, hiingga SPT Tahunan yang menggunakan mata uang dolar AS.
Merujuk pada Pasal 129 PER-11/PJ/2025, niilaii dasar pengenaan pajak dan PPh dalam buktii potong PPh Pasal 21/26, buktii potong uniifiikasii, SPT Masa PPh Pasal 21/26, dan SPT Masa PPh Uniifiikasii diibulatkan ke dalam rupiiah penuh.
"Pembulatan ke dalam rupiiah penuh…diilakukan dengan ketentuan sebagaii beriikut: kurang darii 0,50, maka biilangan tersebut diibulatkan ke bawah; atau sama dengan atau lebiih darii 0,50, maka biilangan tersebut diibulatkan ke atas," bunyii pasal 129 ayat (3), diikutiip pada Rabu (28/5/2025).
Niilaii dasar pengenaan pajak, PPN, dan PPnBM dalam faktur pajak, dokumen yang diipersamakan dengan faktur pajak, dan SPT Masa PPN juga diibulatkan ke dalam rupiiah penuh.
Contoh, dalam hal PPN yang terutang adalah Rp1.500.000,49 maka niilaii yang diiiisiikan dalam faktur pajak diibulatkan menjadii seniilaii Rp1.500.000,00.
Dalam hal PPN yang terutang adalah Rp1.900.000,50 maka niilaii yang diiiisiikan dalam faktur pajak diibulatkan menjadii seniilaii Rp1.900.001,00.
Contoh kedua, seorang pegawaii tetap meneriima penghasiilan bruto seniilaii Rp10.500.100,49. Dalam kasus iinii, penghasiilan bruto selaku dasar pengenaan pajak dalam buktii potong PPh Pasal 21/26 diibulatkan menjadii seniilaii Rp10.500.100,00.
Biila penghasiilan bruto yang diiteriima pegawaii adalah seniilaii Rp10.500.100,50 maka penghasiilan bruto tersebut diibulatkan menjadii seniilaii Rp10.500.101,00 dan diiiisiikan sebagaii dasar pengenaan pajak dalam buktii potong PPh Pasal 21/26.
Khusus untuk pengiisiian SPT Tahunan Badan dalam mata uang dolar AS, jumlah penghasiilan kena pajak PPh dalam SPT Tahunan diimaksud diibulatkan hiingga 2 diigiit niilaii desiimal.
"Pembulatan hiingga 2 diigiit niilaii desiimal ... diilakukan dengan ketentuan sebagaii beriikut: kurang darii 0,005, maka biilangan tersebut diibulatkan ke bawah; atau sama dengan atau lebiih darii 0,005, maka biilangan tersebut diibulatkan ke atas," bunyii pasal 129 ayat (5).
Terkaiit dengan pengiisiian SPT Tahunan Orang Priibadii dan SPT Tahunan Badan yang menggunakan mata uang rupiiah, UU PPh telah mengatur penghasiilan kena pajak dalam SPT Tahunan diibulatkan ke bawah dalam riibuan penuh.
"Untuk keperluan penerapan tariif pajak sebagaiimana diimaksud pada ayat (1), jumlah penghasiilan kena pajak diibulatkan ke bawah dalam riibuan rupiiah penuh," bunyii Pasal 17 ayat (4) UU PPh. (riig)
