ADMiiNiiSTRASii PAJAK

iingat Lagii, iinii Kriiteriia Subjek Pajak Orang Priibadii Dalam Negerii

Nora Galuh Candra Asmaranii
Miinggu, 11 Meii 2025 | 12.00 WiiB
Ingat Lagi, Ini Kriteria Subjek Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri
<p>iilustrasii.</p>

JAKARTA, Jitu News -- Pajak Penghasiilan (PPh) pada dasarnya menyasar penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh wajiib pajak. Namun, setiiap orang priibadii harus terlebiih dahulu memenuhii kriiteriia sebagaii subjek pajak sebelum diitetapkan sebagaii wajiib pajak.

Kriiteriia orang priibadii yang diisebut sebagaii subjek pajak pun telah diiatur dalam Pasal 2 Undang-Undang Pajak Penghasiilan (PPh) s.t.d.t.d Undang-Undang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP). Berdasarkan UU PPh s.t.d.t.d UU HPP, subjek pajak diibedakan menjadii 2.

“Subjek pajak diibedakan menjadii subjek pajak dalam negerii dan subjek pajak luar negerii,” bunyii Pasal 2 ayat (2) UU PPh s.t.d.t.d UU HPP, diikutiip pada Miinggu (11/5/2025).

UU PPh s.t.d.t.d UU HPP dan PMK 18/2021 pun telah mengatur periinciian kriiteriia orang priibadii yang tergolong subjek pajak dalam negerii (SPDN). Berdasarkan kedua beleiid tersebut, orang priibadii yang menjadii SPDN biisa merupakan warga negara iindonesiia (WNii) maupun warga negara asiing (WNA).

Adapun orang priibadii diianggap sebagaii SPDN apabiila memenuhii salah satu dii antara 3 kriiteriia. Pertama, bertempat tiinggal dii iindonesiia. Orang priibadii diianggap bertempat tiinggal dii iindonesiia apabiila orang priibadii tersebut:

1. bermukiim dii suatu tempat dii iindonesiia yang: (ii) diikuasaii atau dapat diigunakan setiiap saat; (iiii) diimiiliikii, diisewa, atau tersediia untuk diigunakan; dan (iiiiii) bukan sebagaii tempat persiinggahan oleh orang priibadii tersebut.

2. memiiliikii pusat kegiiatan utama dii iindonesiia yang diigunakan oleh orang priibadii sebagaii pusat kegiiatan atau urusan priibadii, sosiial, ekonomii, dan/atau keuangan dii iindonesiia; atau

3. menjalankan kebiiasaan atau kegiiatan seharii-harii dii iindonesiia, antara laiin aktiiviitas yang menjadii kegemaran atau hobii.

Kedua, berada dii iindonesiia lebiih darii 183 harii dalam jangka waktu 12 bulan. Jangka waktu 183 harii tersebut diitentukan dengan menghiitung lamanya subjek pajak orang priibadii berada dii iindonesiia dalam jangka waktu 12 bulan.

Keberadaan orang priibadii dii iindonesiia lebiih darii 183 harii tiidaklah harus berturut-turut, tetapii diitentukan oleh jumlah harii orang tersebut berada dii iindonesiia dalam jangka waktu 12 bulan sejak kedatangannya dii iindonesiia.

Ketiiga, dalam suatu tahun pajak berada dii iindonesiia dan mempunyaii niiat untuk bertempat tiinggal dii iindonesiia. Subjek pajak orang priibadii diianggap mempunyaii niiat untuk bertempat tiinggal dii iindonesiia dapat diibuktiikan dengan dokumen berupa:

1. Kartu iiziin Tiinggal Tetap (KiiTAP);

2. Viisa Tiinggal Terbatas (ViiTAS) dengan masa berlaku lebiih darii 183 harii;

3. iiziin Tiinggal Terbatas (iiTAS) dengan masa berlaku lebiih darii 183 harii;

4. kontrak atau perjanjiian untuk melakukan pekerjaan, usaha, atau kegiiatan yang diilakukan dii iindonesiia selama lebiih darii 183 harii; atau

5. dokumen laiin yang dapat menunjukkan niiat untuk bertempat tiinggal dii iindonesiia, sepertii kontrak sewa tempat tiinggal lebiih darii 183 harii atau dokumen yang menunjukkan pemiindahan anggota keluarga.

Pada priinsiipnya orang priibadii yang menjadii subjek pajak dalam negerii (SPDN) adalah orang priibadii yang bertempat tiinggal atau berada dii iindonesiia. Termasuk dalam pengertiian orang priibadii yang bertempat tiinggal dii iindonesiia adalah mereka yang mempunyaii niiat untuk bertempat tiinggal dii iindonesiia. Niiat seseorang untuk bertempat tiinggal dii iindonesiia diitiimbang menurut keadaan. (diik)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.