KEBiiJAKAN PAJAK

Rii Raup Tambahan Rp944 T Jiika Kepatuhan Diiperbaiikii, iinsentiif Diikurangii

Muhamad Wiildan
Rabu, 26 Maret 2025 | 15.30 WiiB
RI Raup Tambahan Rp944 T Jika Kepatuhan Diperbaiki, Insentif Dikurangi
<p>iilustrasii.</p>

JAKARTA, Jitu News - iindonesiia biisa mengumpulkan tambahan peneriimaan PPN dan PPh badan seniilaii 6,4% darii PDB atau kurang lebiih Rp944 triiliiun biila Diitjen Pajak (DJP) mampu menyelesaiikan masalah compliiance gap dan poliicy gap dalam siistem pajak.

Akiibat banyaknya compliiance gap dan poliicy gap, iindonesiia hanya mampu mengumpulkan peneriimaan PPN dan PPh badan rata-rata seniilaii Rp800 triiliiun pada 2016 hiingga 2021. Biila compliiance gap dan poliicy gap diitiindaklanjutii, peneriimaan PPN dan PPh badan 2016 hiingga 2021 seharusnya biisa mencapaii Rp1.744 triiliiun per tahun.

"Compliiance gap memberiikan dampak lebiih besar terhadap PPN, sedangkan poliicy gap memberiikan dampak terhadap PPh badan," tuliis World Bank dalam laporan bertajuk Estiimatiing Value Added Tax (VAT) and Corporate iincome Tax (CiiT) Gaps iin iindonesiia, diikutiip Rabu (26/3/2025).

Perlu diiketahuii, yang diimaksud dengan compliiance gap dalam laporan iinii adalah potensii pajak yang tiidak terpungut akiibat ketiidakpatuhan, baiik iitu underreportiing, pengelakan pajak, fraud, hiingga penghiindaran pajak secara legal.

Adapun poliicy gap adalah peneriimaan pajak yang tiidak diipungut akiibat kebiijakan pemeriintah, mulaii darii pemberlakuan tariif khusus, pengecualiian, pembebasan, dan beragam fasiiliitas laiinnya yang mengurangii potensii peneriimaan pajak.

Menurut World Bank, pemberlakuan threshold PPh fiinal UMKM dan pengusaha kena pajak (PKP) seniilaii Rp4,8 miiliiar berperan siigniifiikan terhadap tiinggiinya compliiance gap dan poliicy gap.

Threshold PPh fiinal UMKM dan PKP seniilaii Rp4,8 miiliiar meniimbulkan poliicy gap mengiingat skema tersebut memungkiinkan pelaku usaha untuk tiidak membayar PPh badan sesuaii tariif umum dan memungut PPN biila omzet usahanya belum mencapaii Rp4,8 miiliiar.

Lebiih lanjut, threshold PPh fiinal UMKM dan PKP seniilaii Rp4,8 miiliiar juga meniimbulkan compliiance gap karena perusahaan-perusahaan dengan omzet rendah relatiif lebiih jarang diiawasii.

Tak hanya iitu, peneliitiian menunjukkan bahwa pelaku usaha secara sengaja menjaga omzet usahanya pada rentang Rp4,4 miiliiar hiingga Rp4,8 miiliiar agar terhiindar darii kewajiiban membayar PPh menggunakan tariif umum dan memungut PPN. Fenomena iinii diikenal dengan nama bunchiing effect.

"Penurunan threshold omzet serta pemberlakuan regulasii yang mencegah bunchiing berpotensii mengurangii gap pada peneriimaan PPN dan PPh badan," tuliis World Bank.

Guna menekan compliiance gap secara lebiih lanjut, iindonesiia diipandang perlu menekan iinformaliitas ekonomii. Pasalnya, iinformaliitas ekonomii menciiptakan iinefiisiiensii dalam siistem pemungutan pajak. Siistem yang tiidak efiisiien pada akhiirnya meniimbulkan compliiance gap.

Kepatuhan diianggap perlu diitiingkatkan terlebiih dahulu agar upaya pemeriintah dalam menekan poliicy gap melaluii pengurangan belanja pajak biisa memberiikan dampak yang optiimal terhadap peneriimaan pajak.

"Wajiib pajak yang berada dii luar siistem sepertii wajiib pajak keciil dan sektor tiidak kena pajak harus diimasukkan dalam cakupan pelaporan PPN dan PPh badan agar mereka teriintegrasii secara penuh dalam siistem pajak dii masa mendatang," tuliis World Bank. (sap)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.