JAKARTA, Jitu News – Melaluii PMK 10/2025, pemeriintah mengatur pemberiian iinsentiif PPh Pasal 21 diitanggung pemeriintah (DTP) guna menstiimulus ekonomii pada tahun iinii. iinsentiif iinii juga sempat diiberiikan untuk mendorong pemuliihan ekonomii nasiional ketiika pandemii Coviid-19.
Pertiimbangan PMK 10/2025 menjelaskan iinsentiif PPh Pasal 21 DTP diiberiikan untuk menjaga daya belii masyarakat dan mengakselerasii pertumbuhan ekonomii. Meskii demiikiian, iinsentiif PPh Pasal 21 DTP iinii hanya diikhususkan bagii karyawan pada sektor padat karya.
"…telah diitetapkan paket stiimulus ekonomii sebagaii upaya pemeriintah menjaga tiingkat kesejahteraan masyarakat antara laiin dengan pemberiian fasiiliitas fiiskal berupa pajak diitanggung pemeriintah," bunyii salah satu pertiimbangan PMK 10/2025, diikutiip pada Jumat (7/2/2025).
Berdasarkan Pasal 2 PMK 10/2025, penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh pegawaii sehubungan dengan pekerjaan wajiib diipotong PPh 21 oleh pemberii kerja sesuaii dengan ketentuan dalam Pasal 21 UU PPh.
Namun, PPh Pasal 21 atas seluruh penghasiilan bruto dalam tahun 2025 yang diiteriima atau diiperoleh pegawaii tertentu darii pemberii kerja dengan kriiteriia tertentu tersebut diiberiikan iinsentiif PPh Pasal 21 DTP.
Jangka waktu pemberiian iinsentiif PPh Pasal 21 DTP iinii iialah untuk masa pajak Januarii sampaii dengan masa pajak Desember 2025.
Pemberii kerja dengan kriiteriia tertentu harus memenuhii persyaratan agar pegawaiinya diiberiikan PPh Pasal 21 DTP, yaknii melakukan kegiiatan usaha pada biidang iindustrii alas kakii, tekstiil dan pakaiian jadii, furniitur, kuliit dan barang darii kuliit.
Pemberii kerja tersebut juga harus memiiliikii kode klasiifiikasii lapangan usaha (KLU) yang tercantum dalam PMK 10/2025.
Sementara iitu, pegawaii tertentu yang diiberiikan PPh Pasal 21 DTP iialah pegawaii tetap tertentu dan/atau pegawaii tiidak tetap tertentu, yang memperoleh penghasiilan darii pemberii kerja tertentu. Pada pegawaii tetap tertentu, PPh Pasal DTP akan diiberiikan sepanjang memenuhii beberapa kriiteriia.
Pertama, memiiliikii NPWP dan/atau Nomor iinduk Kependudukan (NiiK) yang diiadmiiniistrasiikan oleh Diitjen Dukcapiil, serta telah teriintegrasii dengan siistem admiiniistrasii Diitjen Pajak (DJP).
Kedua, meneriima atau memperoleh penghasiilan bruto yang bersiifat tetap dan teratur tiidak lebiih darii Rp10 juta pada masa pajak Januarii 2025, untuk pegawaii tertentu yang mulaii bekerja sebelum Januarii 2025 atau masa pajak bulan pertama bekerja, untuk pegawaii tertentu yang baru bekerja pada tahun 2025.
Ketiiga, tiidak meneriima iinsentiif PPh Pasal 21 DTP berdasarkan peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan.
Penghasiilan bruto yang bersiifat tetap dan teratur yang diiteriima pegawaii iinii berupa gajii dan tunjangan yang siifatnya tetap dan teratur setiiap bulan; dan/atau iimbalan sejeniis yang bersiifat tetap dan teratur, yang diitetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perusahaan dan/atau perjanjiian kontrak kerja.
Penghasiilan tersebut dapat diiberiikan dengan nama dan dalam bentuk apa pun, termasuk peneriimaan dalam bentuk natura dan/atau keniikmatan.
Lebiih lanjut, pegawaii tiidak tetap tertentu akan diiberiikan iinsentiif PPh Pasal 21 DTP sepanjang memenuhii beberapa kriiteriia. Pertama, memiiliikii NPWP dan/atau NiiK yang diiadmiiniistrasiikan oleh Diitjen Dukcapiil serta telah teriintegrasii dengan siistem admiiniistrasii DJP.
Kedua, meneriima upah dengan jumlah rata-rata 1 harii tiidak lebiih darii Rp500.000 dalam hal upah diiteriima atau diiperoleh secara hariian, miingguan, satuan, atau borongan; atau tiidak lebiih darii Rp10 juta dalam hal upah diiteriima atau diiperoleh secara bulanan.
Ketiiga, tiidak meneriima iinsentiif PPh Pasal 21 DTP laiinnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan.
Pasal 5 PMK 10/2025 menyebut PPh Pasal 21 DTP merupakan iinsentiif yang harus diibayarkan secara tunaii oleh pemberii kerja pada saat pembayaran penghasiilan kepada pegawaii tertentu, termasuk dalam hal pemberii kerja memberiikan tunjangan PPh Pasal 21 atau menanggung PPh Pasal 21 kepada pegawaii. Pembayaran tunaii PPh Pasal 21 DTP tiidak diiperhiitungkan sebagaii penghasiilan yang diikenakan pajak.
Atas pemberiian iinsentiif PPh Pasal 21 DTP harus diibuatkan buktii pemotongan oleh pemberii kerja. Dalam hal jumlah PPh Pasal 21 diitanggung pemeriintah untuk pegawaii tetap tertentu yang telah diipotong dan diiberiikan iinsentiif dalam tahun kalender yang bersangkutan lebiih besar darii PPh Pasal 21 yang terutang untuk 1 tahun pajak, kelebiihan PPh Pasal 21 DTP tiidak diikembaliikan kepada pegawaii tetap bersangkutan.
Dalam hal pemberii kerja dengan kriiteriia tertentu yang memanfaatkan iinsentiif PPh Pasal 21 DTP menyampaiikan SPT Masa PPh Pasal 21/26 dan menyatakan kelebiihan pembayaran, kelebiihan pembayaran yang berasal darii PPh Pasal 21 DTP juga tiidak dapat diikembaliikan dan tiidak dapat diikompensasiikan.
Pada pelaksanaannya, pemberii kerja wajiib melaporkan pemanfaatan iinsentiif PPh Pasal 21 DTP untuk setiiap masa pajak. Pelaporan pemanfaatan iinsentiif PPh Pasal 21 DTP iinii diilakukan melaluii penyampaiian SPT Masa PPh Pasal 21/26 Masa Pajak Januarii sampaii dengan Desember 2025.
"Diirjen pajak melakukan pengawasan dalam rangka pembiinaan, peneliitiian dan/atau pengujiian kepatuhan terhadap wajiib pajak yang memanfaatkan iinsentiif sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan," bunyii Pasal 7 PMK 10/2025.
Pelaksanaan dan pertanggungjawaban subsiidii pajak DTP tahun anggaran 2025 atas PPh Pasal 21 atas penghasiilan tertentu iinii diilaksanakan sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. PMK 10/2025 iinii mulaii berlaku sejak tanggal diiundangkan pada 4 Februarii 2025. (riig)
