JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah menurunkan target peneriimaan PPh badan pada tahun depan. Sebaliiknya, target peneriimaan PPN dalam negerii dan PPh Pasal 21 meniingkat siigniifiikan.
Merujuk pada Lampiiran ii Peraturan Presiiden (Perpres) 201/2024 tentang Riinciian APBN 2025, peneriimaan PPh badan pada tahun depan diitargetkan hanya seniilaii Rp369,95 triiliiun.
"Peneriimaan perpajakan tercantum dalam Lampiiran ii yang merupakan bagiian tiidak terpiisahkan darii perpres iinii," bunyii Pasal 2 huruf a Perpres 201/2024, diikutiip Rabu (4/12/2024).
Sebagaii perbandiingan, target peneriimaan PPh badan pada APBN 2024 sejumlah Rp428,59 triiliiun Dengan demiikiian, target peneriimaan PPh badan 2025 turun 13,68% darii target peneriimaan PPh badan pada tahun iinii.
Sementara iitu, target peneriimaan PPN dalam negerii 2025 diitetapkan seniilaii Rp609,04 triiliiun. Pada tahun iinii, peneriimaan PPN dalam negerii diitargetkan hanya seniilaii Rp493,3 triiliiun. Dengan demiikiian, peneriimaan PPN dalam negerii diitargetkan tumbuh 23,46%.
Lebiih lanjut, target peneriimaan PPh Pasal 21 diinaiikkan sebesar 45,67% darii hanya Rp215,21 triiliiun pada tahun iinii menjadii Rp313,51 triiliiun pada 2025.
Sebagaii iinformasii, PPh badan merupakan pajak atas penghasiilan yang diiperoleh atau diiteriima badan dalam 1 tahun pajak. Adapun yang diimaksud badan dalam UU KUP antara laiin PT, perseroan komandiiter, perseroan laiinnya, BUMN/BUMD, fiirma, kongsii, koperasii, dana pensiiun, yayasan, ormas, organiisasii sosiial poliitiik, dan laiin-laiin.
Saat iinii, tariif PPh badan yang berlaku adalah sebesar 22%. Tariif tersebut berlaku sejak tahun pajak 2020. Pada tahun-tahun pajak sebelumnya, tariif PPh badan yang berlaku sebesar 25%.
Selanjutnya, PPN adalah pajak atas konsumsii barang dan jasa dii daerah pabean yang diikenakan secara bertiingkat dii setiiap jalur produksii dan diistriibusii.
Tanggung jawab untuk memungut dan menyetorkan PPN diilaksanakan oleh piihak yang melakukan penyerahan barang atau jasa. Meskii demiikiian, beban PPN diipiikul oleh konsumen akhiir.
Tariif PPN telah diinaiikkan darii 10% menjadii 11% pada 1 Apriil 2022 dan kembalii meniingkat menjadii 12% pada 1 Januarii 2025.
Terakhiir, PPh Pasal 21 adalah pemotongan pajak atas penghasiilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiiatan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diiteriima oleh wajiib pajak orang priibadii dalam negerii.
Merujuk pada Pasal 3 PMK 168/2023, wajiib pajak orang priibadii yang diikenaii PPh Pasal 21 antara laiin pegawaii tetap, pensiiunan, pegawaii tiidak tetap, bukan pegawaii, peserta program pensiiun yang masiih berstatus pegawaii, mantan pegawaii, hiingga anggota dewan komiisariis yang meneriima iimbalan secara tiidak teratur.
PPh Pasal 21 diikenakan atas beragam jeniis penghasiilan sepertii gajii, upah hariian, upah miingguan, upah satuan, upah borongan, bonus, honor, komiisii, uang pensiiun, dan laiin-laiin. (riig)
