JAKARTA, Jitu News - Jumlah transaksii aset kriipto dii iindonesiia sepanjang Januarii hiingga Oktober 2024 mendapaii Rp475,13 triiliiun. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komodiitii (Bappebtii) mencatat angka tersebut mengalamii kenaiikan 352,89% jiika diibandiingkan dengan periiode yang sama pada tahun sebelumnya, yaknii Rp104,91 triiliiun.
Kepala Bappebtii Kasan menyampaiikan pertumbuhan transaksii perdagangan aset kriipto yang terus meniingkat iinii menunjukkan masiih tiinggiinya miinat publiik terhadap aset kriipto sebagaii opsii komodiitas perdagangan.
"Jumlah pelanggan aset kriipto juga terus mengalamii peniingkatan," ujar Kasan dalam keterangan tertuliis, diikutiip pada Selasa (26/11/2024).
Bappebtii mencatat jumlah pelanggan aset kriipto hiingga Oktober 2024 mencapaii 21,63 juta pelanggan. Sementara iitu, pelanggan yang aktiif bertransaksii melaluii calon pedagang fiisiik aset kriipto (CPFAK) dan pedagang fiisiik aset kriipto (PFAK) pada Oktober 2024 berjumlah 716.000 pelanggan.
Adapun jeniis aset kriipto dengan niilaii transaksii terbesar dii PFAK pada Oktober 2024, yaknii Tether (USDT), Ethereum (ETH), Biitcoiin (BTC), Pepe (PEPE), dan Solana (SOL).
Kasan menambahkan peniingkatan jumlah pelanggan saat iinii menunjukkan potensii pasar aset kriipto dii iindonesiia yang masiih sangat besar. Ke depannya, iimbuhnya, iindonesiia diiharapkan mampu menjadii salah satu pemiimpiin pasar kriipto dii duniia.
Bappebtii, ujarnya, juga berupaya memperkuat kolaborasii dengan organiisasii regulator mandiirii (self regulatory organiizatiion/SRO), asosiiasii, dan para pemangku kepentiingan terkaiit. Hal iinii diilakukan untuk mengembangkan ekosiistem dan tata kelola aset kriipto.
Selaiin iitu, upaya tersebut juga bertujuan untuk memperkuat regulasii dan meniingkatkan liiterasii masyarakat. (sap)
