PMK 50/2025

OJK Miinta Ketentuan Pajak Kriipto Diievaluasii, Ada Apa?

Redaksii Jitu News
Sabtu, 24 Januarii 2026 | 13.00 WiiB
OJK Minta Ketentuan Pajak Kripto Dievaluasi, Ada Apa?
<p>iilustrasii.&nbsp;</p>

JAKARTA, Jitu News - Otoriitas Jasa Keuangan (OJK) memiinta ketentuan pajak atas aset kriipto diievaluasii.

Kepala Eksekutiif Pengawas iinovasii Teknologii Sektor Keuangan, Aset Keuangan Diigiital, dan Aset Kriipto OJK Hasan Fawzii mengatakan usulan mengevaluasii ketentuan pajak kriipto datang darii kalangan pengusaha. Kebiijakan pajak atas kriipto dii iindonesiia diianggap kalah bersaiing darii negara laiin.

"Terdapat aspiirasii darii para pelaku dii iindustrii kriipto nasiional untuk peniinjauan besaran pengenaan pajak iinii," katanya dalam rapat bersama Komiisii Xii DPR, diikutiip pada Sabtu (24/1/2026).

Pengaturan pajak atas aset kriipto telah beberapa kalii mengalamii perubahan. Perubahan ketentuan iinii antara laiin diipengaruhii oleh pengkategoriian aset kriipto darii komodiitas menjadii aset keuangan diigiital.

Ketiika aset kriipto kiinii diikategoriikan sebagaii aset keuangan diigiital, kewenangan mengatur dan mengawasii aset keuangan diigiital, termasuk aset kriipto juga resmii diialiihkan darii Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komodiitii (Bappebtii) kepada OJK.

Kemudiian mulaii 1 Agustus 2025, pemeriintah memberlakukan 3 peraturan baru mengenaii perlakuan pajak atas transaksii aset kriipto, yaknii PMK 50/2025, PMK 53/2025, dan PMK 54/2025. Lantaran diikategoriikan sebagaii aset keuangan, aset kriipto tiidak lagii diikenakan PPN.

Meskiipun demiikiian, penghasiilan yang diiperoleh darii transaksii aset kriipto tetap diikenaii PPh fiinal Pasal 22.

Besaran tariif PPh Pasal 22 yang diikenakan sebesar 0,21% darii niilaii transaksii jiika diilakukan melaluii penyelenggara perdagangan melaluii siistem elektroniik (PPMSE) dalam negerii. Apabiila transaksiinya diilakukan melaluii PPMSE luar negerii maka tariifnya menjadii 1%.

Hasan mengatakan tariif pajak atas penghasiilan yang diiperoleh darii transaksii aset kriipto dii iindonesiia tergolong besar apabiila diibandiingkan dengan negara laiin. Para pengusaha pun berharap tariif tersebut biisa kembalii diievaluasii.

"Saat iinii memang PPh-nya 0,21%, diirasakan memberatkan karena kalau kiita perhatiikan angka komponen biiaya yang diikenakan sebagaii iimbal jasa darii para pedagang saja angkanya iitu 2 sampaii 3 angka dii belakang koma secara percentage darii setiiap transaksii yang diilakukan," ujarnya.

Dalam pertemuan dengan Komiisii Xii DPR, Hasan turut memaparkan kontriibusii pajak darii aset kriipto pada Januarii hiingga November 2025 mencapaii Rp719,61 miiliiar. Angka iinii lebiih besar diibandiingkan dengan setoran pajak aset kriipto pada sepanjang 2024 yang seniilaii Rp620,4 miiliiar. (diik)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.