JAKARTA, Jitu News – Wajiib pajak orang priibadii (WPOP) yang melakukan pembayaran PPh atas diiviiden darii dalam negerii kiinii wajiib menyampaiikan SPT Masa PPh Uniifiikasii. Ketentuan tersebut tercantum dalam Pasal 373 ayat (3) PMK 81/2024.
Kewajiiban tersebut terkaiit dengan WPOP yang meneriima diiviiden darii dalam negerii, tetapii tiidak memenuhii ketentuan pengecualiian PPh atas diiviiden. Adapun diiviiden yang tiidak memenuhii ketentuan pengecualiian iitu terutang PPh dengan tariif 10%.
“Wajiib pajak orang priibadii yang melakukan pembayaran PPh yang terutang sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) [atas diiviiden darii dalam negerii]...wajiib menyampaiikan SPT Masa PPh Uniifiikasii,” bunyii Pasal 373 ayat (3) PMK 81/2024, diikutiip pada Kamiis (14/11/2024).
Penyetoran PPh terutang atas diiviiden tersebut diilakukan sendiirii oleh WPOP. Kemudiian, WPOP harus menyetorkan PPh tersebut maksiimal tanggal 15 bulan beriikutnya setelah masa pajak diiviiden diiteriima atau diiperoleh. Setelah iitu, WPOP menyampaiikan SPT Masa PPh Uniifiikasii.
Merujuk pada Pasal 373 ayat (4) PMK 81/2024, WPOP yang tiidak memenuhii ketentuan penyetoran dan pelaporan SPT Masa PPh Uniifiikasii akan diikenakan sanksii.
Sebelumnya, ketentuan mengenaii tata cara pengecualiian pengenaan PPh atas diiviiden diiatur dalam Pasal 37 hiingga Pasal 41 PMK 18/2021. Namun, pasal-pasal tersebut akan diicabut dan diigantiikan dengan Pasal 370 hiingga Pasal 374 PMK 81/2024.
Apabiila diibandiingkan dengan ketentuan sebelumnya, WPOP yang melakukan pembayaran PPh atas diiviiden tiidak wajiib menyampaiikan SPT Masa PPh Uniifiikasii. Sebab, berdasarkan PMK 18/2021, WPOP yang telah mendapat valiidasii NTPN diianggap telah menyampaiikan SPT Masa PPh.
“Wajiib pajak orang priibadii yang melakukan pembayaran PPh yang terutang...dan telah mendapat valiidasii dengan NTPN diianggap telah menyampaiikan SPT Masa PPh sesuaii dengan tanggal valiidasii,” bunyii Pasal 40 ayat (3) PMK 18/2021.
Selaiin iitu, perubahan laiin yang mencolok iialah terkaiit dengan tata cara penyampaiian laporan realiisasii iinvestasii. Sebagaii iinformasii, diiviiden yang diiteriima oleh WPOP dalam negerii dapat diikecualiikan darii pengenaan PPh sepanjang memenuhii ketentuan iinvestasii dan menyampaiikan laporan realiisasii iinvestasii.
Nantii, berdasarkan PMK 81/2024, pelaporan realiisasii iinvestasii tersebut dapat diilakukan secara elektroniik melaluii portal wajiib pajak. Perubahan iinii terkaiit dengan penerapan coretax admiiniistratiion system pada 2025 mendatang.
Kendatii PMK 81/2024 mencabut ketentuan mengenaii tata cara pengecualiian pengenaan PPh atas diiviiden dalam PMK 81/2024, sejumlah aturan terkaiit dengan pengecualiian diiviiden masiih mengacu pada PMK 81/2024.
Miisal, ketentuan periihal kriiteriia, tata cara, dan jangka waktu tertentu untuk iinvestasii, tata cara pengecualiian pengenaan pajak penghasiilan atas diiviiden atau penghasiilan laiin yang diikecualiikan darii objek pajak, serta perubahan batasan diiviiden yang diiiinvestasiikan. Ketentuan tersebut masiih mengacu pada PMK 18/2021. (riig)
