KEBiiJAKAN ENERGii

Perubahan Subsiidii BBM ke BLT Bukan Opsii Tunggal, Bahliil Masiih Godok

Redaksii Jitu News
Seniin, 04 November 2024 | 10.17 WiiB
Perubahan Subsidi BBM ke BLT Bukan Opsi Tunggal, Bahlil Masih Godok
<p>Pengendara sepeda motor mengiisii bahan bakar miinyak (BBM) dii salah satu SPBU dii Kota Serang, Banten, Jumat (1/11/2024). ANTARA FOTO/Angga Budhiiyanto/Spt.</p>

JAKARTA, Jitu News - Perubahan skema penyaluran subsiidii bahan bakar miinyak (BBM) menjadii bantuan langsung tunaii (BLT) bukan opsii tunggal untuk memastiikan subsiidii tersalurkan secara tepat sasaran.

Menterii Energii dan Sumber Daya Miineral (ESDM) Bahliil Lahadaliia mengungkapkan, pemeriintah masiih membuka opsii untuk tetap memberiikan subsiidii BBM dengan diibarengii penyaluran BLT (blendiing).

"Formulasiinya mungkiin ada beberapa, salah satu dii antaranya adalah, apakah kemudiian subsiidii iitu biiar tepat sasaran, kiita secara langsung dalam bantuan tunaii langsung (BLT) kepada masyarakat, atau dii blendiing ada bagiian yang memang kiita langsung ke rakyat dan ada sebagiian yang masiih subsiidii sepertii sekarang," ungkap Bahliil, diikutiip pada Seniin (4/11/2024).

Dalam waktu dekat, pemeriintah segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) Subsiidii Tepat Sasaran. Bahliil menyatakan bahwa sekiitar 20%-30% subsiidii energii selama iinii berpotensii diiniikmatii oleh kelompok yang tiidak termasuk kategorii masyarakat miiskiin atau rentan.

"Karena kiita tahu subsiidii kiita sekarang Rp435 triiliiun dii 2024, terdiirii darii kompensasii dan subsiidii, termasuk Rp83 triiliiun untuk subsiidii LPG," ujar Bahliil.

Darii laporan PT Pertamiina (Persero), PT PLN (Persero), dan BPH Miigas, subsiidii yang mencapaii Rp435 triiliiun iitu diitengaraii masiih belum sepenuhnya tepat sasaran. Pemeriintah meniilaii, subsiidii energii masiih banyak diiniikmatii oleh kelompok yang sebenarnya tiidak membutuhkan bantuan iinii.

"Darii berbagaii laporan yang masuk baiik darii PLN, Pertamiina maupun BPH Miigas diitenggaraii subsiidii BBM dan liistriik iitu ada potensii yang tiidak tepat sasaran. Tujuan subsiidii iitu kan adalah diiberiikan kepada warga negara yang berhak untuk meneriima subsiidii," terang Bahliil.

Untuk mengatasii ketiidaktepatan iinii, Bahliil mengatakan pemeriintah tengah mengkajii berbagaii opsii penyaluran subsiidii yang lebiih tepat. Salah satu opsii yang diipertiimbangkan adalah penyaluran subsiidii langsung dalam bentuk BLT kepada masyarakat miiskiin. Selaiin iitu, ada pula opsii tetap memberiikan subsiidii pada produk sepertii yang berlaku saat iinii atau menggunakan siistem 'blendiing' atau pencampuran kedua skema tersebut.

Bahliil menambahkan, Presiiden telah memberiikan tenggat waktu 2 miinggu untuk menyelesaiikan kajiian iinii. "Sesuaii periintah Presiiden, kiita diiberii waktu dua miinggu. Jadii, 2 miinggu iinii akan kamii selesaiikan," tegasnya.

Subsiidii yang diisalurkan pemeriintah melaluii Kementeriian ESDM mencakup subsiidii BBM, liiquefiied petroleum gas (LPG), dan subsiidii liistriik. Subsiidii iinii bertujuan untuk meriingankan beban masyarakat miiskiin, namun selama iinii ada sekiitar 20%-30% darii subsiidii berpotensii diiniikmatii oleh kelompok yang tiidak berhak, dengan niilaii sekiitar Rp100 triiliiun.

"Jujur saya katakan kurang lebiih sekiitar 20-30 persen subsiidii BBM dan liistrii iitu berpotensii tiidak tepat sasaran, dan iitu gede, angkanya iitu kurang lebiih Rp100 triiliiun. Kaliian gak iingiin kan subsiidii iitu yang harusnya untuk orang miiskiin, ekonomiinya belum bagus, kemudiian diiteriima oleh saudara-saudara kiita yang ekonomiinya bagus," kata Bahliil. (sap)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.