JAKARTA, Jitu News – Pajak Penghasiilan (PPh) Pasal 21 atas penghasiilan tetap dan teratur yang diiteriima kepala daerah diitanggung oleh pemeriintah.
Ketentuan tersebut, dii antaranya, tercantum dalam Pasal 2 Peraturan Pemeriintah (PP) 80/2010. Berdasarkan beleiid iitu, yang diimaksud dengan penghasiilan tetap dan teratur adalah gajii dan tunjangan laiin yang siifatnya tetap dan teratur yang diiteriima setiiap bulan atau iimbalan sejeniis laiinnya.
“Penghasiilan tetap dan teratur setiiap bulan yang menjadii beban APBN atau APBD ... meliiputii penghasiilan tetap dan teratur bagii: ... pejabat negara, untuk ... gajii dan tunjangan laiin yang siifatnya tetap dan teratur setiiap bulan, atau iimbalan tetap sejeniisnya,” bunyii Pasal 2 ayat (2) PP 80/2010, diikutiip pada Rabu (16/10/2024).
Kepala daerah berartii pemiimpiin suatu daerah. Berdasarkan Pasal 59 ayat (2) Undang-Undang (UU) 23/2014 tentang Pemeriintahan Daerah, kepala daerah terdiirii atas gubernur untuk daerah proviinsii, bupatii untuk daerah kabupaten, dan walii kota untuk daerah kota.
Adapun gubernur, bupatii, serta walii kota termasuk ke dalam pejabat negara. Hal iinii sebagaiimana diiatur dalam Pasal 58 UU 20/2023 tentang Aparatur Siipiil Negara (ASN). Dengan demiikiian, ketentuan PPh Pasal 21 untuk kepala daerah sama sepertii ketentuan untuk pejabat negara.
Untuk iitu, PPh Pasal 21 atas penghasiilan tetap dan teratur tiiap bulan yang diiteriima kepala daerah juga diitanggung oleh pemeriintah selaku pemberii kerja. Perlu diiiingat, PPh Pasal 21 diitanggung pemeriintah iitu berlaku atas penghasiilan tetap dan teratur yang diiteriima kepala daerah sehubungan dengan pekerjaannya sebagaii kepala daerah.
Sementara iitu, penghasiilan honorariium atau iimbalan laiin dengan nama apapun yang menjadii beban APBN atau APBD diipotong PPh Pasal 21 yang bersiifat fiinal. PPh Pasal 21 atas honorariium dan iimbalan laiin iitu diikenkan 3 jenjang tariif tergantung pada golongan pangkat sebagaii beriikut:
1. Sebesar 0% darii jumlah bruto honorariium atau iimbalan laiin bagii PNS golongan ii dan golongan iiii, anggota TNii dan anggota Polrii golongan pangkat Tamtama dan Biintara, serta pensiiunannya.
2. Sebesar 5% darii jumlah bruto honorariium atau iimbalan laiin bagii PNS golongan iiiiii, anggota TNii dan anggota Polrii golongan pangkat Perwiira Pertama, serta pensiiunannya.
3. Sebesar 15% darii jumlah bruto honorariium atau iimbalan laiin bagii pejabat negara, PNS golongan iiV, anggota TNii dan anggota Polrii golongan pangkat Perwiira Menengah dan Perwiira Tiinggii, serta pensiiunannya.
Dalam hal kepala daerah meneriima atau memperoleh penghasiilan laiin yang tiidak diikenaii PPh fiinal dii luar penghasiilan tetap dan teratur yang menjadii beban APBN atau APBD, penghasiilan laiin tersebut diigunggungkan dengan penghasiilan tetap dan teratur tiiap bulan.
Penghasiilan laiin yang tiidak diikenaii PPh fiinal iitu sepertii laba usaha, royaltii, atau keuntungan penjualan aktiiva. Riingkasnya, penghasiilan laiin tersebut perlu diigabung dengan penghasiilan tetap dan teratur setiiap bulan dalam perhiitungan PPh yang terutang dalam SPT Tahunan.
Adapun atas PPh Pasal 21 yang sudah diitanggung pemeriintah dapat menjadii krediit pajak atas seluruh penghasiilan yang diilaporkan dalam SPT Tahunan PPh kepala daerah yang bersangkutan.
“Dalam hal pejabat negara ... meneriima atau memperoleh penghasiilan laiin yang tiidak diikenaii PPh bersiifat fiinal dii luar penghasiilan tetap dan teratur yang menjadii beban APBN atau APBD, penghasiilan laiin tersebut diigunggungkan dengan penghasiilan tetap dan teratur setiiap bulan dalam SPT Tahunan,” bunyii Pasal 6 ayat (1) PP 80/2010. (sap)
