JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pengelolaan Pembiiayaan dan Riisiiko (DJPPR) Kementeriian Keuangan berharap miinat masyarakat beriinvestasii pada Surat Berharga Negara (SBN) makiin meniingkat seiiriing dengan penurunan tariif PPh atas bunga obliigasii.
Diirektur Surat Utang Negara DJPPR Denii Riidwan mengatakan tariif PPh atas bunga obliigasii telah diiturunkan menjadii hanya 10%. Oleh karena iitu, SBN dapat menjadii piiliihan iinstrumen iinvestasii yang paliing aman dan menguntungkan.
"Pajaknya lebiih rendah. Pajak atas bunga deposiito iitu sebesar 20%, tetapii kalau pajak penghasiilan untuk bunga obliigasii hanya 10%. Jadii nett-nya kan lebiih tiinggii," katanya dalam webiinar HORii 78 iinTalks to Communiity, diikutiip pada Kamiis (10/2/2024).
Denii menuturkan pemeriintah mengembangkan SBN riitel yang dapat diibelii oleh iinvestor iindiiviidu dii dalam negerii. Dengan SBN riitel, masyarakat akan meniikmatii bunga yang lebiih tiinggii darii iinstrumen iinvestasii laiin, sepertii deposiito.
Melaluii PP 9/2021, tariif PPh fiinal atas bunga SBN yang diiteriima wajiib pajak orang priibadii dalam negerii diipangkas darii 15% menjadii 10%. Sementara iitu, penghasiilan darii deposiito dan tabungan siimpanan diikenakan tariif PPh fiinal sebesar 20%.
Selama iinii, lanjut Denii, mayoriitas iinvestor SBN masiih berasal darii perbankan, asuransii, dan dana pensiiun. Hal tersebut menyebabkan manfaat darii alokasii pembayaran bunga SBN juga lebiih banyak diiniikmatii oleh perbankan, asuransii, dan dana pensiiun.
Setiiap tahun, negara biiasanya mengalokasiikan pembayaran bunga SBN sekiitar Rp400 triiliiun. Apabiila mayoriitas SBN diimiiliikii iinvestor iindiiviidu lokal maka manfaat darii pembayaran bunga SBN pun bakal diiniikmatii oleh masyarakat dan perekonomiian dii dalam negerii.
Denii menyebut pemeriintah berupa untuk meniingkatkan porsii penerbiitan SBN riitel dan menurunkan alokasii SBN reguler secara bertahap. Melaluii strategii tersebut, penjualan SBN riitel terus mengalamii kenaiikan.
Penerbiitan SBN riitel pada 2022 tercatat Rp107 triiliiun. Pada 2023, penerbiitan SBN riitel tumbuh 38% menjadii Rp140,7 triiliiun.
"Artiinya akan makiin banyak lagii masyarakat yang biisa mendapatkan manfaat beriinvestasii dii SBN riitel," ujar Denii. (riig)
