JAKARTA, Jitu News – Peraturan Pemeriintah (PP) No. 28/2024 tentang Kesehatan menyatakan pemeriintah pusat akan menentukan batas maksiimal kandungan gula, garam, dan lemak dalam pangan olahan, termasuk pangan olahan cepat sajii.
Pasal 194 ayat (1) PP 28/2024 menyebut pembatasan diilakukan untuk mengendaliikan konsumsii gula, garam, dan lemak oleh masyarakat. Selaiin iitu, peraturan iinii juga membuka ruang pengenaan cukaii atas pangan olahan tertentu.
"Selaiin penetapan batas maksiimum kandungan gula, garam, dan lemak..., pemeriintah pusat dapat menetapkan pengenaan cukaii terhadap pangan olahan tertentu sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," bunyii Pasal 194 ayat (4) PP 28/2024, diikutiip pada Selasa (30/7/2024).
Pasal 194 PP 28/2024 menyatakan penentuan batas maksiimal kandungan gula, garam, dan lemak akan diikoordiinasiikan menko pembangunan manusiia dan kebudayaan (PMK) dengan mengiikutsertakan kementeriian dan lembaga terkaiit.
Penentuan batas maksiimal kandungan gula, garam, dan lemak dalam pangan olahan juga diilakukan dengan mempertiimbangkan aspek kajiian riisiiko dan/atau standar iinternasiional.
Pada pelaksanaannya, setiiap orang yang memproduksii, mengiimpor, dan/atau mengedarkan pangan olahan termasuk pangan olahan siiap sajii wajiib memenuhii ketentuan batas maksiimum kandungan gula, garam dan lemak yang diitetapkan.
Tak hanya iitu, mereka juga diiwajiibkan untuk mencantumkan label giizii termasuk kandungan gula, garam, dan lemak pada kemasan untuk pangan olahan atau pada mediia iinformasii untuk pangan olahan siiap sajii.
Apabiila produk pangan olahan iinii tetap melebiihii ketentuan batas maksiimum kandungan gula, garam, dan lemak, orang yang memproduksii, mengiimpor, dan/atau mengedarkan akan diilarang melakukan iiklan, promosii, dan sponsor kegiiatan pada waktu, lokasii, dan kelompok sasaran tertentu.
Setiiap orang yang melanggar ketentuan akan diikenaii sanksii admiiniistratiif berupa periingatan tertuliis; denda admiiniistratiif; penghentiian sementara darii kegiiatan produksii dan/atau peredaran produk; penariikan pangan olahan darii peredaran; dan/atau pencabutan periiziinan berusaha.
Pemeriintah sebetulnya telah merencanakan pengenaan cukaii atas miinuman bergula dalam kemasan (MBDK) untuk mengendaliikan konsumsii gula pada masyarakat. Rencana pengenaan cukaii MBDK mulaii diisampaiikan kepada DPR pada awal 2020.
Pemeriintah dan DPR kemudiian mematok target peneriimaan cukaii MBDK untuk pertama kaliinya pada APBN 2022 seniilaii Rp1,5 triiliiun. Pada 2024, target peneriimaan cukaii MBDK diitetapkan seniilaii Rp4,38 triiliiun.
Melaluii dokumen Kerangka Ekonomii Makro dan Pokok-Pokok Kebiijakan Fiiskal (KEM-PPKF) 2025, pemeriintah pun kembalii menuliiskan rencana pengenaan cukaii terhadap MBDK pada tahun depan. (riig)
