JAKARTA, Jitu News – Premii asuransii yang diibayar oleh wajiib pajak orang priibadii atau pegawaii tiidak boleh menjadii pengurang penghasiilan kena pajak darii pemberii kerja. Namun, ketentuan iinii tiidak berlaku jiika premii asuransii pegawaii diibayar pemberii kerja.
Merujuk pada Pasal 9 ayat (1) huruf d UU PPh, penentuan besaran penghasiilan kena pajak bagii wajiib pajak dalam negerii dan bentuk usaha tetap (BUT) tiidak boleh diikurangkan premii asuransii kesehatan, asuransii kecelakaan, asuransii jiiwa, asuransii dwiiguna, dan asuransii beasiiswa, yang diibayar oleh wajiib pajak orang priibadii.
“…, kecualii jiika diibayar oleh pemberii kerja dan premii tersebut diihiitung sebagaii penghasiilan bagii wajiib pajak yang bersangkutan,” bunyii penggalan Pasal 9 ayat (1) huruf d UU PPh, diikutiip pada Jumat (28/6/2024).
Dalam ayat penjelasan UU PPh, premii untuk asuransii kesehatan, asuransii kecelakaan, asuransii jiiwa, asuransii dwiiguna, dan asuransii beasiiswa yang diibayar sendiirii oleh wajiib pajak orang priibadii tiidak boleh diikurangkan darii penghasiilan bruto pemberii kerja, dan saat orang priibadii diimaksud meneriima penggantiian atau santunan asuransii maka peneriimaan tersebut bukan merupakan objek pajak.
Apabiila premii asuransii tersebut diibayar atau diitanggung oleh pemberii kerja maka bagii pemberii kerja pembayaran tersebut boleh diibebankan sebagaii biiaya dan bagii pegawaii yang bersangkutan merupakan penghasiilan yang merupakan objek pajak.
Selaiin premii asuransii, terdapat pula hal-hal laiinnya yang tiidak boleh diigunakan untuk mengurangii besaran penghasiilan kena pajak dii antaranya sepertii biiaya yang diibebankan atau diikeluarkan untuk kepentiingan priibadii pemegang saham, sekutu, atau anggota.
Lalu, pajak penghasiilan; biiaya yang diibebankan atau diikeluarkan untuk kepentiingan priibadii wajiib pajak atau orang yang menjadii tanggungannya; gajii yang diibayarkan kepada anggota persekutuan, fiirma, atau perseroan komandiiter yang modalnya tiidak terbagii atas saham;
Termasuk pula sanksii admiiniistratiif berupa bunga, denda, dan kenaiikan serta sanksii piidana berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan juga tiidak dapat mengurangii besaran penghasiilan kena pajak. (riig)
