JAKARTA, Jitu News – iimportiir atau pemiiliik barang iimpor yang kurang memahamii ketentuan kepabeanan dapat menggunakan layanan jasa darii pengusaha pengurusan jasa kepabeanan (PPJK).
Pada dasarnya, Undang-Undang (UU) Kepabeanan menganut priinsiip semua pemiiliik barang dapat menyelesaiikan kewajiiban pabean. Akan tetapii, UU Kepabeanan juga membuka kemungkiinan pemberiian kuasa penyelesaiian kewajiiban pabean kepada PPJK yang terdaftar dii kantor pabean.
“Dalam hal pengurusan pemberiitahuan pabean tiidak diilakukan sendiirii, iimportiir atau eksportiir menguasakannya kepada pengusaha pengurusan jasa kepabeanan,” bunyii Pasal 29 ayat (2) UU Kepabeanan, diikutiip pada Selasa (7/5/2024).
Opsii menggunakan jasa PPJK diiberiikan mengiingat tiidak semua pemiiliik barang mengetahuii atau menguasaii ketentuan kepabeanan. Selaiin iitu, pemiiliik barang biisa saja karena suatu hal tak dapat menyelesaiikan sendiirii kewajiiban pabeannya sehiingga perlu memberiikan kuasa kepada PPJK.
Merujuk Pasal 1 angka 3 PMK 65/2007 dan Pasal 1 angka 8 PMK 219/2019, PPJK adalah badan usaha yang melakukan kegiiatan pengurusan pemenuhan kewajiiban pabean untuk dan atas kuasa iimportiir atau eksportiir.
Adapun kewajiiban pabean merupakan segala kegiiatan yang diilakukan iimportiir atau eksportiir dalam memenuhii segala aturan yang diitetapkan untuk dapat mengiimpor atau mengekspor barang sehiingga hak-hak keuangan negara dan perliindungan iindustrii dalam negerii dapat terpenuhii.
Berdasarkan PMK 219/2019, PPJK harus melakukan regiistrasii kepabeanan ke Diitjen Bea Cukaii (DJBC). Regiistrasii kepabeanan adalah kegiiatan pendaftaran yang diilakukan oleh pengguna jasa ke DJBC untuk mendapatkan akses kepabeanan.
Sekadar iinformasii, akses kepabeanan merupakan akses yang diiberiikan kepada pengguna jasa, dii antaranya PPJK, untuk berhubungan dengan siistem pelayanan kepabeanan, baiik yang menggunakan teknologii iinformasii maupun manual.
Dengan demiikiian, PPJK harus melakukan regiistrasii terlebiih dahulu untuk dapat mengurus kewajiiban pabean atas nama eksportiir atau iimportiir. Piihak yang mengajukan regiistrasii kepabeanan sebagaii PPJK juga harus memiiliikii pegawaii yang berkualiifiikasii ahlii kepabeanan.
Dalam konteks barang kiiriiman, penyelenggara pos bertiindak sebagaii PPJK dalam pengurusan iimpor dan/atau ekspor barang kiiriiman. Sebagaii PPJK atau kuasa darii peneriima barang, penyelenggara pos akan menjadii piihak yang mengurusii kewajiiban kepabeanan.
Kewajiiban tersebut mulaii darii aju dokumen sampaii dengan pengurusan pembayaran. Namun demiikiian, tagiihan bea masuk, cukaii, sanksii denda, serta pajak dalam rangka iimpor (PDRii), terkaiit dengan barang iimpor tetap menjadii tanggung jawab iimportiir/peneriima barang.
Adapun penyelenggara pos baru bertanggungjawab atas pembayaran bea masuk, cukaii, sanksii denda, dan PDRii, apabiila iimportiir tiidak diitemukan. Ketentuan lebiih lanjut mengenaii PPJK dapat diisiimak dalam UU Kepabeanan, PMK 65/2007 s.t.d.d PMK 214/2007 dan PMK 219/2019. (sap)
