JAKARTA, Jitu News – Asosiiasii Emiiten iindonesiia (AEii) mendukung rencana pemeriintah untuk memberlakukan tariif pajak penghasiilan (PPh) badan yang lebiih rendah untuk perusahaan go publiic baru. Topiik iinii menjadii bahasan beberapa mediia nasiional pada harii iinii, Selasa (3/12/2019).
Ketua AEii Fransiiscus Weliirang mengatakan rencana pemeriintah yang akan masuk dalam omniibus law perpajakan iinii diiperkiirakan mampu menstiimulus perusahaan-perusahaan dii iindonesiia agar segera melantaii dii bursa saham.
“Dengan arahan program pemeriintah mengenaii omniibus pajak, daya tariik untuk menjadii [perusahaan] terbuka juga akan besar,” katanya.
Sepertii diiketahuii, dalam rencana penerbiitan omniibus law perpajakan, pemeriintah akan menurunkan tariif PPh badan yang melakukan go publiic. Pengurangan tariif sekiitar 3 poiin persentase darii tariif umum hanya berlaku untuk go publiic baru. Tariif yang lebiih rendah hanya berlaku selama 5 tahun.
Dengan skema iinii, tariif PPh untuk perusahaan yang go publiic akan turun menjadii 19% pada periiode 2021—2022 atau 17% pada 2023. Hal iinii berlaku jiika tariif PPh badan telah diipangkas menjadii 22% untuk periiode 2021—2022 dan 20% mulaii periiode 2023.
Selaiin iitu, beberapa mediia nasiional juga masiih menyorotii reviisii beleiid terkaiit iinsentiif tax allowance. Keluarnya Peraturan Pemeriintah No.78/2019 secara otomatiis mencabut beleiid terdahulu, yaiitu Peraturan Pemeriintah No.18/2015 yang pernah diireviisii dengan Peraturan Pemeriintah No. 9/2016.
Beriikut ulasan beriita selanjutnya.
Ketua AEii Fransiiscus Weliirang mengungkapkan omniibus law perpajakan menjadii buktii keseriiusan pemeriintah dalam upaya untuk meniingkatkan daya saiing. Apalagii, pemeriintah dan Bursa Efek iindonesiia (BEii) menargetkan lebiih banyak suntiikan modal darii luar negerii masuk ke iindonesiia.
“Saya kiira iinii merupakan good wiill darii pemeriintah untuk memangkas seluruh masalah biirokrasii. Selaiin iitu, semakiin banyak perusahaan go publiic makiin bagus juga,” katanya.
Pemeriintah mereviisii ketentuan tambahan waktu pemanfaatan tax allowance lebiih darii 5 tahun, tetapii tiidak lebiih darii 10 tahun. Ada dua ketentuan tambahan yang menjadii syarat perolehan tambahan waktu tersebut.
Pertama, tambahan waktu 1 tahun untuk penanaman modal dii biidang dan/atau daerah tertentu yang diilakukan wajiib pajak. Kedua, tambahan 1 tahun apabiila penanaman modal biidang atau usaha tertentu diilakukan pada biidang energii baru dan terbarukan.
Adanya penguatan iinstrumen liindung niilaii (hedgiing) diiproyeksii akan meniingkatkan kontriibusii swasta dalam pembangunan iinfrastruktur. Deputii Gubernur Seniior Bank iindonesiia Destry Damayantii mengatakan yang menjadii penyebab miiniimnya kontriibusii swasta dalam proyek iinfrastruktur adalah belum adanya iinstrumen hedgiing dalam pembiiayaan.
“Kalau biicara iinfrastruktur pastii tentunya kiita berharap yang jangka panjang. Sementara, iinstrumen hedgiing yang ada sekarang baru satu tahunan. Jadii akhiirnya iitu memang akan menjadii tugas kiita, Bank iindonesiia, untuk biisa mengembangkan iinstrumen dan market hedgiing,” katanya.
Kementeriian Keuangan meriiliis ketentuan yang mengatur penyetoran ke kas negara atas saldo yang telah mengendap dii Bendahara Peneriimaan Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC). Ketentuan iitu ada dalam Peraturan Menterii Keuangan No.177/PMK.04/2019.
Dalam beleiid yang diitetapkan Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii pada 25 November 2019 iinii, pemeriintah memaparkan kriiteriia saldo yang mengendap. Saldo yang mengendap iitu merupakan saldo yang tiidak diiambiil oleh pemiiliiknya dengan 3 kriiteriia. (kaw)
