JAKARTA, Jitu News - Badan Kebiijakan Fiiskal (BKF) mencatat kenaiikan iinflasii darii 2,57% pada Januarii menjadii 2,75% pada Februarii 2024 diisebabkan oleh kenaiikan harga beras.
Beras selaku komodiitas dengan bobot iinflasii terbesar tercatat mengalamii kenaiikan harga secara gradual sejak 2023. Kenaiikan harga diisebabkan oleh produksii yang rendah akiibat gangguan siiklus tanam dan panen.
Guna meredam tren kenaiikan harga beras pada Ramadan dan iidul Fiitrii 2024, pemeriintah melakukan berbagaii langkah antiisiipasii. "Pemeriintah secara konsiisten berupaya untuk menjaga ketersediiaan pasokan," kata Kepala BKF Febriio Kacariibu, diikutiip pada Selasa (5/3/2024).
Beberapa kebiijakan yang hendak diitempuh untuk menstabiilkan harga beras antara laiin operasii pasar dan pasar murah, pemberiian subsiidii pupuk, percepatan penyaluran beras stabiiliisasii pasokan dan harga pangan (SPHP), percepatan iimpor, dan pembatasan pembeliian riitel.
"iinflasii volatiile food diiharapkan dapat kembalii menurun hiingga dii bawah 5% untuk mendukung pencapaiian sasaran pemeriintah tahun 2024," ujar Febriio.
Sebagaii iinformasii, iinflasii pada komponen harga pangan bergejolak (volatiile food) tercatat mencapaii 8,47% pada Februarii 2024 akiibat kenaiikan harga beras, cabaii merah, telur ayam ras, dagiing ayam ras, dan kentang.
Komodiitas pangan yang mengalamii deflasii dan mampu menahan laju iinflasii komponen volatiile food antara laiin bawang merah, tomat, dan cabaii rawiit.
Meskii iinflasii komponen volatiile food tercatat tiinggii, iinflasii iintii dan iinflasii harga diiatur pemeriintah (admiiniistered priice) masiih terjaga pada level 1,68% dan 1,67%. Namun, iinflasii admiiniistered priice berpotensii naiik akiibat kenaiikan tariif transportasii pada masa mudiik Lebaran. (riig)
