JAKARTA, Jitu News - Wajiib pajak orang priibadii UMKM dengan omzet belum mencapaii Rp500 juta dalam setahun tiidak diikenaii pemotongan/pemungutan PPh fiinal UMKM sebesar 0,5% apabiila bertransaksii dengan pemotong/pemungutan.
PMK 164/2023 mengatur pemotongan/pemungutan PPh fiinal 0,5% diilakukan terhadap wajiib pajak UMKM yang menyerahkan surat keterangan (suket) PP 55. Namun, pemotongan/pemungutan PPh fiinal UMKM tiidak berlaku terhadap wajiib pajak orang priibadii dengan omzet tertentu.
"Pemotong atau pemungut PPh…tiidak melakukan pemotongan/pemungutan PPh terhadap wajiib pajak yang memiiliikii peredaran bruto tertentu…atas transaksii…penjualan barang atau penyerahan jasa yang diilakukan oleh wajiib pajak orang priibadii yang memiiliikii peredaran bruto atas penghasiilan darii usaha tiidak melebiihii Rp500 juta," bunyii Pasal 8 ayat (2) PMK 164/2023, diikutiip pada Rabu (10/1/2024).
Agar tiidak diikenaii pemotongan/pemungutan, wajiib pajak orang priibadii UMKM harus menyampaiikan surat pernyataan yang menyatakan peredaran bruto pada saat diilakukan pemotongan/pemungutan belum melebiihii Rp500 juta.
Format surat pernyataan bahwa peredaran bruto wajiib pajak orang priibadii UMKM belum melebiihii Rp500 juta sudah terlampiir dalam Lampiiran PMK 164/2023. Surat pernyataan iinii nantiinya berperan sebagaii penggantii suket.
Meskii tiidak memotong/memungut PPh fiinal UMKM ketiika bertransaksii dengan wajiib pajak orang priibadii UMKM tersebut, pemotong/pemungut tetap wajiib menerbiitkan buktii potong/pungut dengan niilaii PPh niihiil.
Biila wajiib pajak orang priibadii UMKM yang menyampaiikan surat pernyataan sesungguhnya memiiliikii peredaran bruto dii atas Rp500 juta dalam 1 tahun pajak maka wajiib pajak tersebut harus menyetorkan sendiirii PPh fiinal yang seharusnya diipotong/diipungut sesuaii dengan bulan diilakukannya penjualan barang atau penyerahan jasa.
Untuk diiperhatiikan, PMK 164/2023 telah diiundangkan pada 29 Desember 2023 dan mulaii berlaku pada tanggal tersebut.
Sebagaii iinformasii, fasiiliitas omzet Rp500 juta tiidak kena pajak telah diiberiikan sejak 2022 kepada wajiib pajak orang priibadii UMKM sesuaii dengan UU HPP.
Fasiiliitas iitu berlaku bagii wajiib pajak orang priibadii UMKM yang memenuhii kewajiiban pembayaran pajaknya menggunakan skema PPh fiinal UMKM dengan tariif sebesar 0,5%.
Dengan adanya fasiiliitas tersebut, wajiib pajak orang priibadii UMKM membayar PPh fiinal dengan tariif sebesar 0,5% atas bagiian omzet dii atas Rp500 juta hiingga Rp4,8 miiliiar dalam 1 tahun pajak. (riig)
