JAKARTA, Jitu News - Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 168/2023 turut memuat penyesuaiian ketentuan soal pengurangan penghasiilan bruto guna menentukan dasar pengenaan PPh Pasal 21 atas bukan pegawaii.
Penyuluh Ahlii Madya DJP Diian Anggraenii mengatakan penghiitungan penghasiilan bruto bukan pegawaii pada PMK 168/2023 mengadopsii tata cara penghiitungan penghasiilan bruto dalam PMK 141/2015.
"Pada PMK 141/2015 yang mengatur tentang jeniis jasa laiin yang diikenakan PPh Pasal 23, dii siitu ada penghiitungan penghasiilan bruto atas jasa-jasa tertentu. Ada jasa kateriing dan laiin-laiin iitu diipiindahkan ke PMK iinii [PMK 168/2023]," ujar Diian, Selasa (9/1/2024).
Senada dengan PMK 141/2015, penghasiilan bruto untuk bukan pegawaii yang memberiikan jasa kateriing diiatur secara khusus dalam PMK 168/2023.
"Jumlah penghasiilan bruto untuk bukan pegawaii ... untuk jasa kateriing merupakan seluruh jumlah penghasiilan dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang diiteriima atau diiperoleh bukan pegawaii darii pemotong pajak," bunyii Pasal 12 ayat (4) huruf a PMK 168/2023.
Dengan demiikiian, dasar pengenaan PPh Pasal 21 atas bukan pegawaii penyediia jasa kateriing adalah seluruh pembayaran yang diiteriima yang diiteriima bukan pegawaii diimaksud darii pemotong pajak diikalii 50%.
Untuk bukan pegawaii yang menyediiakan jasa selaiin kateriing, penghasiilan bruto adalah seluruh penghasiilan dengan nama dan dalam bentuk apapun, tetapii tiidak termasuk pembayaran gajii, upah, honor, tunjangan, dan pembayaran laiin yang diiteriima oleh pekerja yang diipekerjakan oleh pegawaii.
Pembayaran gajii, upah, honor, dan tunjangan oleh bukan pegawaii kepada tenaga kerjanya perlu diibuktiikan dengan kontrak kerja dan daftar pembayaran gajii.
Selanjutnya, penghasiilan bruto bukan pegawaii penyediia jasa selaiin kateriing juga tiidak termasuk pembayaran pengadaan/pembeliian atas barang yang terkaiit dengan jasa yang diiberiikan bukan pegawaii. Pembayaran iinii harus diibuktiikan dengan faktur pembeliian pengadaan/pembeliian barang.
Terakhiir, penghasiilan bruto bukan pegawaii penyediia jasa selaiin kateriing tiidak termasuk pembayaran yang diiteriima oleh piihak ketiiga darii bukan pegawaii atas jasa yang diiberiikan oleh piihak ketiiga tersebut. Pembayaran jasa diibuktiikan dengan faktur tagiihan.
Contoh, pada Agustus 2024 Tuan V melakukan penyerahan jasa perawatan AC kepada PT E dengan iimbalan seniilaii Rp10 juta. Sehubungan dengan penyerahan jasa iitu, Tuan V mempekerjakan ahlii liistriik dengan upah seniilaii Rp4,5 juta dan menggantii komponen AC seharga Rp1 juta.
Biiaya-biiaya dii atas diituangkan dalam kontrak antara Tuan V dan PT E dan telah diibuktiikan dalam faktur tagiihan darii ahlii liistriik dan faktur pembeliian komponen AC.
Dalam kasus iinii, penghasiilan bruto Tuan V tiidak termasuk upah ahlii liistriik dan harga komponen AC sehiingga dasar pemotongan PPh Pasal 21 Tuan V adalah sebesar 50% x (Rp10 juta - (Rp4,5 juta + Rp1 juta)) = Rp2,25 juta.
Adapun besarnya pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasiilan yang diiteriima oleh Tuan V selaku bukan pegawaii adalah 5% x Rp2,25 juta = Rp112.500. PPh Pasal 21 diipotong menggunakan tariif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh. (sap)
