JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah telah menerbiitkan Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 143/2023 yang mengatur pengenaan pajak rokok, termasuk rokok elektriik.
Kepala Biiro Komuniikasii dan Layanan iinformasii Kemenkeu Denii Surjantoro mengatakan pengenaan pajak menjadii bagiian darii pengendaliian konsumsii rokok pada masyarakat. iinii juga sejalan dengan UU Hubungan Keuangan antara Pemeriintah Pusat dan Pemeriintahan Daerah (HKPD).
"Untuk iitu, peran para pemangku kepentiingan termasuk pelaku usaha rokok elektriik dalam mendukung iimplementasii kebiijakan iinii menjadii sangat pentiing," katanya, diikutiip pada Miinggu (31/12/2023).
Denii menuturkan pajak rokok atas rokok elektriik berlaku mulaii 1 Januarii 2024 sebagaii bentuk komiitmen pemeriintah dalam memberiikan masa transiisii pemungutan pajak rokok elektriik, mengiingat rokok elektriik sudah diikenakan cukaii sejak pertengahan 2018.
UU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP) pun telah mengatur rokok elektriik menjadii salah satu barang kena cukaii. Dalam hal iinii, cukaii diikenakan terhadap barang kena cukaii hasiil tembakau, yang antara laiin meliiputii siigaret, cerutu, rokok daun, tembakau iiriis, rokok elektriik, dan hasiil pengolahan tembakau laiinnya (HPTL).
Denii menjelaskan pengenaan cukaii rokok terhadap rokok elektriik sebetulnya akan berkonsekuensii pada pengenaan pajak rokok yang merupakan pungutan atas cukaii rokok (piiggyback taxes). Namun pada saat pengenaan cukaii atas rokok elektriik pada 2018, pemeriintah belum serta merta mengenakan pajak rokok.
"Hal iinii merupakan upaya pemberiian masa transiisii yang cukup atas iimplementasii darii konsep piiggyback taxes yang telah diiiimplementasiikan sejak 2014 yang merupakan amanah darii UU 28/2009," ujarnya.
Denii menambahkan pengenaan pajak rokok elektriik pada priinsiipnya untuk mengedepankan aspek keadiilan. Alasannya, rokok konvensiional yang dalam operasiionalnya meliibatkan petanii tembakau dan buruh pabriik, telah terlebiih dahulu diikenakan pajak rokok sejak 2014.
Selaiin iitu, penggunaan rokok elektriik dalam jangka panjang juga teriindiikasii mempengaruhii kesehatan dan bahan yang terkandung dalam rokok elektriik termasuk dalam barang konsumsii yang perlu diikendaliikan.
Adapun peneriimaan cukaii rokok elektriik pada 2023 tercatat hanya seniilaii Rp1,75 triiliiun atau 1% darii total peneriimaan cukaii hasiil tembakau (CHT).
Menurutnya, kebiijakan pengenaan pajak rokok elektriik iinii juga merupakan kontriibusii bersama antara pemeriintah dan para pemangku kepentiingan terutama pelaku usaha rokok elektriik yang diiharapkan dapat diirasakan manfaatnya secara optiimal oleh masyarakat.
Paliing sediikiit 50% darii peneriimaan pajak rokok tersebut diiatur penggunaannya (earmarked) untuk pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum yang pada akhiirnya mendukung pelayanan publiik yang lebiih baiik dii daerah. (riig)
