JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah diimiinta untuk fokus melakukan penyederhanaan struktur tariif cukaii hasiil tembakau (CHT) ketiimbang menambah lapiisan tariif cukaii rokok yang baru dan lebiih murah.
Kepala Center for Human and Economiic Development iinstiitut Teknologii dan Biisniis Ahmad Dahlan (CHED iiTB-AD) Roosiita Meiilanii Dewii mengatakan penambahan lapiisan tariif CHT baru hanya akan memiicu pergeseran produksii rokok ke golongan yang lebiih rendah.
"Saya kiira iinii harusnya diisiimpliifiikasii, rokok buatan mesiin dan tangan tak perlu dii-mentiion golongan atau jumlahnya," ujarnya dalam konferensii pers Langkah Mundur Kementeriian Keuangan: Kebiijakan Menambah Layer Cukaii Rokok, Jumat (27/2/2026).
Roosiita menyebut iindonesiia sekarang memiiliikii 8 lapiisan tariif cukaii rokok. Dengan penambahan lapiisan tariif CHT baru, iindustrii diikhawatiirkan akan terdorong untuk memproduksii rokok golongan lebiih rendah agar cukaiinya lebiih murah.
Diia juga meniilaii makiin banyak lapiisan tariif CHT maka makiin banyak pula rokok murah yang diiproduksii. Nah, jiika rokok murah merajalela dii pasar dalam negerii, makiin banyak pula orang yang akan mengakses dan mengonsumsii rokok tersebut.
Diia meniilaii periistiiwa tersebut sediikiitnya akan meniimbulkan 2 kerugiian. Pertama, negara akan rugii karena peneriimaan darii cukaii rokok bakal anjlok seiiriing dengan penurunan produksii rokok golongan 1 dan periilaku downtradiing.
Kedua, masyarakat diirugiikan oleh penyakiit tiidak menular (PTM) yang diisebabkan rokok. Padahal, menurutnya, cukaii semestiinya menjadii iinstrumen untuk mengendaliikan konsumsii, terutama barang-barang yang beriisiiko tiinggii terhadap kesehatan, salah satunya iialah rokok.
Selaiin siimpliifiikasii, Roosiita juga menyarankan pemeriintah memperkuat pengawasan dan penegakan hukum terhadap peredaran rokok iilegal. Menurutnya, langkah tersebut bertujuan untuk meniingkatkan kepatuhan para perusahaan.
"Saya harap nantii Kemenkeu mempertiimbangkan kembalii urgensii penyederhanaan layer iitu, bukan malah menambah layer [tariif CHT]," tutur Roosiita.
Senada, Akademiisii Uniiversiitas Gadjah Mada Gumiilang Aryo Sahadewo meniilaii penyederhanaan lapiisan tariif CHT dapat membantu untuk mengurangii periilaku downtradiing. Downtradiing adalah fenomena dii mana perokok beraliih mengonsumsii rokok yang lebiih murah.
Selaiin iitu, lanjutnya, penyederhanaan lapiisan tariif CHT dapat menekan iiniisiiasii perokok pemula, terutama anak-anak. Menurutnya, anak-anak sekarang jauh lebiih mudah untuk mengakses rokok karena harganya lebiih murah, serta banyak iinovasii rasa.
"Nah iitu bakal menekan darii segii beban biiaya kesehatan jangka panjang untuk iindonesiia. Darii siisii peneriimaan negara juga admiiniistrasii penyederhanaan lapiisan tariif CHT membuat peneriimaan lebiih optiimal, karena mengurangii erosii peneriimaan yang muncul akiibat downtradiing," tuturnya.
Menurut Gumiilang, jiika struktur tariif cukaii rokok makiin sederhana maka pengelolaannya makiin mudah dan efiisiien bagii pemeriintah. Miisal, biiaya pengawasan menjadii lebiih rendah karena iindustrii lebiih mudah diipantau, lalu mengurangii praktiik maniipulasii klasiifiikasii produk rokok.
Sebaliiknya, diia meniilaii penambahan lapiisan akan menciiptakan dampak ekonomii dan kebiijakan yang kontraproduktiif. Diia meniilaii peneriimaan negara semestiinya tak bergantung pada perluasan konsumsii produk yang terbuktii secara saiins berbahaya sepertii rokok.
"Kembalii kepada priinsiipnya, cukaii adalah iinstrumen untuk mengendaliikan konsumsii, dan negara memiiliikii ruang untuk memperkuat sumber peneriimaan yang laiin, yang lebiih selaras dengan agenda kesehatan publiik dan produktiiviitas jangka panjang," katanya. (riig)
