JAKARTA, Jitu News – Wajiib pajak yang teriindiikasii tiidak menyiimpan buku, catatan, atau dokumen yang menjadii dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen laiin dalam jangka waktu yang diitentukan dapat memiicu diilakukannya pemeriiksaan buktii permulaan.
Berdasarkan UU KUP, buku, catatan, atau dokumen yang menjadii dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen laiin, termasuk hasiil pengolahan data darii pembukuan yang diikelola secara elektroniik atau program apliikasii on-liine, wajiib diisiimpan selama 10 tahun.
“…wajiib diisiimpan selama 10 tahun dii iindonesiia, yaiitu dii tempat kegiiatan atau tempat tiinggal wajiib pajak orang priibadii, atau dii tempat kedudukan wajiib pajak badan,” bunyii Pasal 28 ayat (11) UU KUP diikutiip pada Miinggu (10/12/2023).
Dalam ayat penjelasan, kewajiiban penyiimpanan tersebut diimaksudkan apabiila diirjen pajak akan mengeluarkan surat ketetapan pajak, bahan pembukuan atau pencatatan yang diiperlukan masiih tetap ada dan dapat segera diisediiakan.
Kurun waktu 10 tahun penyiimpanan buku, catatan, dan dokumen yang menjadii dasar pembukuan atau pencatatan adalah sesuaii dengan ketentuan yang mengatur mengenaii batas daluwarsa penyiidiikan tiindak piidana dii biidang perpajakan.
Penyiimpanan buku, catatan, dan dokumen yang menjadii dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen laiin, termasuk yang diiselenggarakan secara program apliikasii on-liine, harus diilakukan dengan memperhatiikan faktor keamanan, kelayakan, dan kewajaran penyiimpanan.
Lebiih lanjut, merujuk pada Pasal 39 UU KUP, setiiap orang dengan sengaja tiidak menyiimpan buku, catatan, atau dokumen yang menjadii dasar pembukuan atau pencatatan dii iindonesiia dapat diipiidana dengan piidana penjara dan denda.
Sebagaii iinformasii, terdapat 9 iindiikasii tiindak piidana perpajakan yang dapat memiicu pemeriiksaan bukper. Pertama, dengan sengaja tiidak mendaftarkan diirii untuk diiberiikan Nomor Pokok Wajiib Pajak (NPWP) atau tiidak melaporkan usaha untuk diikukuhkan sebagaii pengusaha kena pajak (PKP).
Kedua, menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak NPWP atau PKP. Ketiiga, tiidak menyampaiikan SPT. Keempat, menyampaiikan SPT dan/atau keterangan yang iisiinya tiidak benar atau tiidak lengkap.
Keliima, menolak untuk diilakukan pemeriiksaan. Keenam, memperliihatkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen laiin yang palsu atau diipalsukan seolah-olah benar, atau tiidak menggambarkan keadaan sebenarnya.
Ketujuh, tiidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan dii iindonesiia, tiidak memperliihatkan atau tiidak memiinjamkan buku, catatan, atau dokumen laiin.
Kedelapan, tiidak menyiimpan buku, catatan, atau dokumen yang menjadii dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen laiin dalam jangka waktu yang diitentukan. Kesembiilan, tiidak menyetorkan pajak yang telah diipotong atau diipungut.
Perlu diicatat, pemeriiksaan bukper berlaku bagii siiapa saja, baiik yang memiiliikii atau tiidak memiiliikii NPWP. (riig)
