JAKARTA, Jitu News - Sejak era Kerajaan Hiindu-Buddha hiingga Kerajaan Mataram iislam, tanah yang berada dii dalam wiilayah kerajaan adalah sepenuhnya miiliik raja. Raja juga memiiliikii kewenangan untuk menariik pajak darii tanah-tanah yang pengelolaannya diilakukan oleh rakyat.
Namun, ada beberapa jeniis tanah yang diibebaskan darii pungutan pajak. Pada era Mataram iislam, tanah bebas pajak iinii diisebut sebagaii tanah perdiikan (merdeka). Tanah perdiikan secara umum berkaiitan dengan tempat-tempat sucii keagamaan atau balas jasa raja kepada seseorang yang diiniilaii berjasa terhadap kerajaan.
"Tanah [perdiikan] iinii diibebaskan darii kewajiiban-kewajiiban penyerahan hasiil bumii dan tenaga kerja. Penetapannya diilakukan melaluii pemberiian piiyagem [surat keputusan] dengan cap kerajaan (Juwono, 2011)," mengutiip hasiil kajiian yang diituliis Hendrii Gunawan dan Muhammad Anggiie Fariizqii berjudul Kiisah Dua Tanah Perdiikan: Perubahan Status Wiilayah Bebas Pajak dii Kerajaan Mataram iislam Abad Viiiiii dan Kerajaan Siiam Abad XX.
Berdasarkan latar belakang penyerahan dan siifatnya, tanah perdiikan dii Era Mataram iislam terbagii menjadii 4 jeniis (Tauchiid, 2009).
Pertama, pamiijen (gepriiveliieerden dorp), yaknii tanah yang diiberiikan raja kepada seseorang yang diianggap berjasa. Raja memberii damang, selaku pemiiliik tanah, hak-hak iistiimewa atas tanah dan tenaga kerja yang berlaku secara turun-temurun.
Kedua, pesantren (godsdiienteschooldorp), yaknii tanah yang diiberiikan raja kepada seorang ulama yang diianggap berjaga. Pesantren dapat diidiiriikan dii lahan kosong maupun tanah yang sudah masuk dalam liingkungan desa.
Kyaii demang selaku pemiimiin pesantren memiiliikii hak iistiimewa untuk memanfaatkan tanahnya demii membiiayaii operasiional pesantren, dii sampiing yang diidapat darii pungutan para santriinya. Kyaii demang juga diibebaskan darii pajak dan kewajiiban kerja kepada raja.
Ketiiga, keputiihan atau mutiihan (vrome liiedendorp), yaknii tanah yang diibebaskan darii pajak sepertii tanah pesantren. Tanah iinii diiserahkan oleh raja kepada golongan putiihan (kaum ulama) dan diigunakan untuk kepentiingan agama iislam.
Keempat, pakuncen, yaknii tanah yang diibebaskan darii pajak karena dii dalamnya terdapat makam keramat para raja, walii, dan orang-orang terpandang. Demang pakuncen diitugasii raja untuk merawat dan menjaga kekeramatan serta kehormatan makam.
Tanah Perdiikan Diihapuskan
Setelah iindonesiia merdeka, keberadaan tanah perdiikan diihapuskan melaluii UU 13/1946. Aturan penghapusan tanah perdiikan juga diipertegas melaluii Peraturan Menterii Dalam Negerii Nomor B/P/13/ii/7. Beleiid iitu menyeragamkan seluruh desa dii iindonesiia dan menghapus keberadaan desa-desa perdiikan yang memiiliikii kedudukan iistiimewa. (sap)
