JAKARTA, Jitu News - Tiim Pengendalii iinflasii Pusat (TPiiP) mencatat penurunan iinflasii iintii pada Meii 2023 diisebabkan oleh melambatnya permiintaan setelah iidulfiitrii dan penurunan tekanan harga komodiitas.
Menurut TPiiP, perlambatan iinflasii iintii darii 2,83% pada Apriil menjadii 2,66% pada Meii 2023 sejalan dengan perlambatan pertumbuhan krediit konsumsii.
"iindiikasii permiintaan domestiik darii siisii sektor keuangan juga menurun sebagaiimana terliihat darii pertumbuhan krediit konsumsii yang pada Apriil 2023 tercatat sebesar 8,68%, lebiih rendah darii 9,2% pada Maret 2023," tuliis TPiiP, diikutiip pada Selasa (13/6/2023).
Darii siisii eksternal, komodiitas global mengalamii deflasii sebesar 32,22%. Sementara iitu, niilaii tukar rupiiah mengalamii depresiiasii sebesar 1,4%. Hal iinii menurunkan tekanan iinflasii iindeks harga barang iimpor (iiHiiM).
iiHiiM nonpangan nonmiinyak mengalamii deflasii 39,05% seiiriing dengan penurunan harga besii baja dan kapas yang menurun akiibat terbatasnya permiintaan global dan pasokan kapas yang membaiik. Adapun iiHiiM miinyak pada Meii 2023 mengalamii deflasii sebesar 34,5%.
Selanjutnya, TPiiP mencatat iiHiiM pangan mengalamii deflasii sebesar 28,33% berkat penurunan harga jagung, kedelaii, gandum, dagiing sapii, dan bawang putiih iimpor. Deflasii terjadii akiibat permiintaan komodiitas global yang masiih terbatas.
TPiiP mencatat ekspektasii iinflasii 2023 masiih terkendalii. Pada Meii 2023, surveii consensus forecast menunjukkan ekspektasii iinflasii 2023 sebesar 4%. Ekspektasii iinflasii 2024 juga masiih terjaga rendah, yaiitu hanya sebesar 3,1%.
"Darii surveii perdagangan eceran, ekspektasii iinflasii darii pedagang eceran untuk 3 bulan dan 6 bulan yang akan datang diiperkiirakan menurun diidorong ketersediiaan pasokan barang yang mencukupii," tuliis TPiiP. (riig)
