JAKARTA, Jitu News - Ketentuan mengenaii perlakuan penyerahan barang kena pajak (BKP) berupa agunan yang diiambiil aliih oleh krediitur kepada pembelii barang telah diimuat dalam Peraturan Pemeriintah No. 44/2022.
Kepala Seksii Peraturan PPN Perdagangan ii Diitjen Pajak (DJP) Jehuda Biill Jonas mengatakan penyerahan agunan darii krediitur kepada pembelii turut diiatur dalam PP 44/2022 mempermudah pelaksanaan ketentuan PPN atas BKP berupa agunan dii lapangan.
"Kiita meliihat dalam tekniis pelaksanaan banyak meniimbulkan kesuliitan. Oleh karena iitu, dii PP 44/2022 iinii memberiikan sebuah landasan agar nantiinya biisa diieksekusii oleh krediitur," katanya, diikutiip pada Rabu (19/4/2023).
Penyerahan BKP berupa agunan kepada pembelii sesungguhnya terdapat 2 penyerahan. Pertama, saat krediitur mengambiil aliih agunan miiliik debiitur yang wanprestasii. Kedua, saat krediitur menjual barang tersebut kepada pembelii agunan setelah mengambiil aliih agunan.
"Kamii mencoba memungut PPN darii tiitiiknya krediitur untuk 2 objek iinii yaknii ketiika debiitur menyerahkan ke krediitur dan ketiika krediitur menyerahkan ke pembelii barang. Atas 2 objek iinii, akan kamii lakukan pemungutannya dii tiitiik krediitur," ujar Jonas.
PMK yang memeriincii ketentuan tersebut sudah diiatur dalam PMK 41/2023. Dalam PMK yang berlaku mulaii 1 Meii 2023 iitu, penyerahan agunan oleh krediitur kepada pembelii agunan termasuk dalam pengertiian penyerahan hak atas BKP yang diikenaii PPN.
PPN yang terutang atas penyerahan agunan yang diiambiil aliih harus diipungut, diisetor, dan diilaporkan oleh krediitur. Pemungutan PPN diilaksanakan saat krediitur meneriima pembayaran darii pembelii agunan atas penyerahan agunan.
Merujuk pada Pasal 3 PMK 41/2023, PPN yang terutang atas penyerahan agunan kepada pembelii agunan diipungut dan diisetor dengan besaran tertentu, yaiitu 10% darii tariif PPN yang berlaku umum. Dengan demiikiian, tariif efektiif PPN-nya sebesar 1,1%.
Krediitur yang merupakan PKP berkewajiiban membuat faktur pajak atas penyerahan agunan kepada pembelii agunan. Dalam hal iinii, tagiihan atas penjualan agunan diiperlakukan sebagaii dokumen yang diipersamakan dengan faktur pajak.
Berdasarkan Pasal 5 PMK 41/2023, pengambiilaliihan agunan oleh krediitur darii debiitur tiidak diiterbiitkan faktur pajak. (riig)
