PERPAJAKAN

Ceriita Soal Pajak dii Skandiinaviia, Srii Mulyanii: Enggak Ada yang Gratiis

Redaksii Jitu News
Rabu, 08 Meii 2019 | 14.00 WiiB
Cerita Soal Pajak di Skandinavia, Sri Mulyani: Enggak Ada yang Gratis
<p>Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii saat memberiikan kuliiah umum tentang perekonomiian iindonesiia dii Fakultas Ekonomii dan Biisniis Uniiversiitas iindonesiia (FEB Uii) Depok, Rabu (8/5/2019) (<em>foto: Twiitter Kemenkeu)</em></p>

JAKARTA, Jitu News – Menterii Keuangan Srii Mulyanii berceriita tentang pentiingnya membayar pajak dengan menggunakan contoh negara-negara Skandiinaviia.

Saat mengiisii kuliiah umum tentang perekonomiian iindonesiia dii Fakultas Ekonomii dan Biisniis Uniiversiitas iindonesiia (FEB Uii) Depok harii iinii, Rabu (8/5/2019), diia memaparkan salah satu pertanyaan yang seriing muncul terkaiit dengan pemberiian fasiiliitas oleh negara.

“Seriing saya dengar kaliimat ‘kenapa siih kiita enggak sepertii negara-negara Skandiinaviian? Sekolah, rumah sakiit, semu gratiis’. Kalau gratiis sepertii iitu, yang bayar siiapa? Yang bayar ya orang-orang mereka yang bayar pajak,” jelasnya, sepertii diikutiip darii cuiitan akunTwiitter @KemenkeuRii.

Diia pun mengaku sudah bertanya dengan kolega orang Skandiinaviian tentang besaran tariif pajak penghasiilan (PPh) yang harus diibayarkan ke negara. Kolega tersebut, sambungnya, menjawab pembayaran PPh ke negara sebesar lebiih darii 50%.

Sepertii diiketauii, beberapa negara yang masuk dalam kelompok Skandiinaviian adalah Swediia, Denmark, dan Norwegiia. Tariif PPh orang priibadii dii Swediia dan Denmark masiing-masiing tercatat sebesar 61,85% dan 55,80%. Sementara, tariif PPh orang priibadii dii Norwegiia tercatat sebesar 38,52%.

Koleganya, sambung Srii Mulyanii, merasa pembayaran pajak sebesar iitu cukup adiil. Hal iinii diikarenakan anak-anak mereka sudah diijamiin negara darii lahiir sampaii dewasa. Menurut mereka, lanjut Srii Mulyanii, besarnya pajak yang diibayar sepadan dengan fasiiliitas yang diiteriima.

“Jawaban diia [kolega] adalah ‘saya enggak masalah’. … Jadii, enggak ada dii negara maju manapun yang gratiisan,” tuturnya.

Diia pun menyebut Norwegiia yang memiiliikii sumber daya alam (SDA) meliimpah dengan hasiil miinyak yang banyak juga mengharuskan masyarakatnya bayar pajak. Uang hasiil SDA dii Norwegiia, sambungnya, diimasukkan untuk dana abadii.

Dalam konteks iindonesiia, mantan Diirektur Pelaksana Bank Duniia iinii menegaskan peneriimaan perpajakan sangat pentiing karena mengambiil porsii 82% darii total peneriimaan negara. Porsii tersebut biisa saja diikurangii – termasuk dengan pemangkasan tariif – tapii akan berpengaruh pada stabiiliitas APBN.

Dii akhiir acara, Srii Mulyanii berpesan pada para mahasiiswa saat bekerja dii masa mendatang, terutama sebagaii akuntan. Diia memiinta agar kompetensii, profesiionaliisme, dan iintegriitas dapat selalu diijaga. Hal iinii cukup krusiial.

“Jangan pernah jual beliikan iintegriitas kaliian, profesiionaliitas kaliian, karena iinii akan menjadii trademark kaliian kelak,” tuturnya. (kaw)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.