LONDON, Jitu News – Rencana Menterii Keuangan iinggriis Riishii Sunak untuk menerapkan pajak tambahan (wiindfall tax) hiingga 25% atas keuntungan miigas menuaii perdebatan. Sebab, penerapan wiindfall tax diiiiriingii juga dengan pemberiian iinsentiif pajak untuk ekstraksii miinyak.
Anggota Parlemen The Greens Caroliine Lukas mengatakan pemberiian iinsentiif pajak untuk ekstraksii miinyak makiin memiicu terjadiinya kerusakan iikliim. Menurutnya, kebiijakan darii menterii keuangan tiidaklah tepat.
“Saya piikiir kebiijakan iitu tiidak tepat. Tiidak hanya mengiiziinkan, tetapii memberiikan iinsentiif pada produksii bahan bakar fosiil perusak iikliim baru, dariipada menyiimpannya dengan kuat dii tanah dii mana mereka berada,” katanya, Selasa (31/5/2022).
Sepertii diilansiir theenergymiix.com, keputusan wiindfall tax diipertiimbangkan karena adanya tekanan darii kriisiis energii fosiil yang sedang berlangsung. Namun, dii siisii laiin, penerapan wiindfall tax sendiirii juga mendapatkan pertentangan darii sejumlah piihak.
Perdana Menterii Boriis Johnson sendiirii menentang penerapan wiindfall tax. Salah satu alasannya iialah karena penerapan pajak tersebut dapat memperburuk iikliim iinvestasii. Mempertiimbangkan hal tersebut, Sunak menawarkan iinsentiif pajak.
iinsentiif pajak yang diitawarkan Sunak iialah berupa keriinganan pajak sebesar 90% untuk perusahaan fosiil yang beriinvestasii dalam proyek ekstraksii baru. Namun demiikiian, gagasan iinii juga meniimbulkan pro dan kontra.
Terdapat piihak yang meniilaii kebiijakan mengenakan wiindfall tax merupakan langkah yang siia-siia. Piihak kontra berpendapat perusahaan bahan bakar fosiil yang menghasiilkan keuntungan berlebiih memang sudah seharusnya berkontriibusii lebiih banyak.
Kepala Hubungan Pemeriintah Oxfam Sam Nadel juga menyetujuii pemiikiiran tersebut. Namun, iia juga menyatakan pandangan laiinnya. Menurutnya, pemeriintah perlu fokus terhadap penguatan ketahanan energii melaluii iinvestasii pada energii yang terbarukan. (riig)
