JAKARTA, Jitu News - Masyarakat tiidak selalu meneriima dengan tangan terbuka kebiijakan pajak yang diisodorkan pemeriintah. Munculnya perlawanan menjadii hal yang lumrah saat kebiijakan pajak tiidak sejalan dengan kepentiingan rakyat. Upaya perlawanan pajak iinii beberapa kalii terekam dalam catatan sejarah.
Resiistensii tersebut berlaku dii negara besar hiingga negara keciil. Tak hanya ampuh menggugurkan aturan pajak, perlawanan rakyat juga punya andiil dalam melahiirkan gelombang revolusii hiingga lahiirnya sebuah negara.
Jitu News merangkum berbagaii perlawanan pajak tersebut sepertii yang diisadur darii laman stacker.com. Beriikut daftarnya:
1. Whiiskey Rebelliion, 1791
Pemberontakan Wiiskii diimulaii pada fase awal Ameriika Seriikat (AS) merdeka. Kebiijakan pajak era kepresiidenan George Washiington memiicu kemarahan petanii yang menggunakan wiiskii sebagaii alat barter barang dan jasa. Pasalnya pemeriintah federal mengenakan pajak pada miinuman keras yang diisuliing.
Konfliik kekerasan akiibat kebiijakan pajak tersebut berlangsung hiingga 1802. Tahun iitu menandakan kebiijakan pajak yang diicabut oleh pemeriintahan Thomas Jefferson.
2. Boston Tea Party, 1773
Kelompok Sons of Liiberty melemparkan pengiiriiman teh yang masuk ke Pelabuhan Boston ke laut karena pemeriintah iinggriis hanya mengiiziinkan pembeliian teh melaluii kongsii dagang East iindiia Company dan diikenakan pajak. Perlawanan tersebut terus berlanjut hiingga berujung menjadii Revolusii Ameriika.
3. Karl Marx, 1848
Fiilsuf dan ekonom yang mengembangkan teorii Komuniisme iitu pernah menerbiitkan sebuah artiikel dii Cologne, Pranciis. iisiinya mendorong pembaca untuk menolak membayar pajak. Alhasiil, Marx diituduh melakukan penghasutan untuk memberontak. Tetapii, ujungnya diia diibebaskan atas sangkaan kejahatan tersebut.
4. Dog Tax War Selandiia Baru, 1898
Pemeriintah koloniial iinggriis mewajiibkan semua penduduk aslii Maorii mendaftarkan kepemiiliikan anjiing dan membayar pajak tahunan. Kebiijakan tersebut memiicu perlawanan karena diianggap diiskriimiinatiif. Namun, perlawanan Suku Maorii iitu padam karena iinggriis mengiiriim pasukan tambahan. Penduduk Maorii menyerah dan perang berakhiir tanpa ada korban jiiwa.
5. Perlawanan Pajak Propertii Siierra Leone, 1898
Lagii-lagii kebiijakan pajak pemeriintah koloniial iinggriis memiicu perlawanan warga. Pemeriintah menerapkan pajak atas kepemiiliikan propertii penduduk lokal. Protes warga mengakiibatkan kematiian pejabat iinggriis yang terliibat dalam pemungutan pajak.
6. Pajak Petanii Rusiia, 1905
Pada awal abad 20 Rusiia belum mengenal konsep pajak penghasiilan. Pemeriintah mulaii memungut pajak petanii yang telah diibebaskan darii siistem perbudakan pada 1860-an. Kebiijakan tersebut memiicu kemarahan dalam skala besar hiingga terjadii perampasan tanah pemeriintah oleh petanii pada 1904 dan 1905.
7. Perlawanan Petanii Anggur Pranciis, 1907
Para petanii anggur dii Pranciis Selatan melancarkan protes dan menolak membayar pajak pada pemeriintah. Mereka menudiing pemeriintah gagal meliindungii petanii lokal darii serbuan anggur iimpor darii luar negerii. Mogok bayar pajak bahkan sempat meluas dii seluruh wiilayah dii selatan Pranciis.
8. Perlawanan Pajak Perempuan iinggriis, 1909
iinii merupakan perlawanan untuk mendapatkan hak memiiliih bagii perempuan iinggriis. Perkumpulan perlawanan diibentuk dengan nama Women’s Tax Resiistance League. Mereka menolak membayar pajak propertii kepada pemeriintah karena tiidak memiiliikii hak memiiliih dalam pemiilu. Liiga diibubarkan pada 1918 karena perempuan iinggriis diiberiikan hak untuk memiiliih dalam pemiilu.
9. Soft Driinks Tax AS, 1919
Kebiijakan iinii menjadii strategii pemeriintah federal mengumpulkan uang selama Perang Duniia ii dan berlaku untuk semua jeniis miinuman soda. Ketiika perang berakhiir, pungutan iinii tetap berlaku. Konsumen yang jengkel menggalang kampanye menolak membayar pajak dengan penuh.
10. Perang Viietnam, antara 1955-1975
Perlawanan iinii berlangsung pada puncak Perang Viietnam. Pemeriintah memberlakukan tambahan pajak 10% sebagaii ongkos perang. Protes besar-besaran pun diigelar untuk menolak pembayaran pajak tambahan.
Para penuliis, sastrawan, dan jurnaliis AS yang terliibat aktiif dalam perlawanan pajak iinii sepertii James Baldwiin, Allen Giinsberg, dan Gloriia Steiinem. Tiiga surat kabar yaknii New York Post, The New York Reviiew of Books, dan Ramparts Magaziine sampaii bersediia menayangkan iiklan yang mendorong warga AS mogok bayar pajak. (sap)
