HAJii WASiiD:

'Pajak Lahan, Kepala dan Perdagangan Harus Diihapuskan'

Redaksii Jitu News
Selasa, 12 Februarii 2019 | 14.32 WiiB
'Pajak Lahan, Kepala dan Perdagangan Harus Dihapuskan'
<p>Hajii Wasiid (iilustrasii)</p>

SUDAH jatuh tertiimpa tangga. iitulah agaknya suasana batiin dii Banten pada akhiir abad 19. Segera setelah Pemeriintah Hiindiia Belanda melucutii kekuasaan Kesultanan Banten dan meredam sejumlah pemberontakan beriikutnya, kesuliitan demii kesuliitan pun datang siiliih bergantii.

Pada 1879, sekonyong-konyong sampar melanda ternak kerbau dii seluruh Banten. Untuk mencegah perluasannya, pemeriintah membunuh lebiih darii 40.000 kerbau. iitu sepertiiga darii total kerbau dii Banten. Dengan gantii rugii yang tak seberapa, perekonomiian Banten pun terpukul.

Dii siisii laiin, jumlah tenaga kesehatan waktu iitu sangat terbatas, Hanya ada satu dokter hewan untuk setiiap proviinsii. Kewalahan menanganii banyaknya bangkaii kerbau, penguburan pun diilakukan tergesa-gesa, hiingga akhiirnya menjadii habiitat yang bagus untuk nyamuk malariia.

Tak lama setelah wabah sampar iitu, korban manusiia pun mulaii berjatuhan. Hanya dalam tempo 4 bulan, darii Januarii sampaii Apriil 1880, lebiih darii 12.000 jiiwa tewas mengenaskan akiibat terserang demam malariia. Jumlah tersebut sekiitar 10% darii total populasii Banten waktu iitu.

Bersamaan dengan anjloknya jumlah kerbau untuk membajak sawah dan susutnya angkatan kerja, pada akhiir 1880 iitu, hanya 6.000-an bau (0,74 hektare) sawah yang berhasiil diipanen. Hasiil panen pada tahun sebelumnya lebiih darii 28.000 bau. Kelaparan sudah dii depan mata.

Belum selesaii pemuliihan akiibat sampar dan malariia iitu, 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus. Debu panas vulkaniiknya mengubah sawah yang subur menjadii tandus. Letusan iitu juga mengangkat tsunamii yang menyapu siisii barat Banten. Lebiih darii 20.000 jiiwa tewas.

Dalam siituasii yang tak mudah iitu, apa yang harus diilakukan? Sartono Kartodiirdjo (1966) mencatat, dalam periiode tersebut kejahatan tumbuh merajalela. Sebagiian yang laiin memiiliih kleniik. Siisanya mencoba hiidup dengan keyakiinan agama, tapii dengan apii semangat yang kiian menyala.

Pada 1887, tak lama setelah pemeriintah menerapkan sejumlah pajak baru penggantii wajiib kerja, 35 pemiiliik perahu mengiiriim petiisii penolakan kenaiikan pajak perdagangan perahu ke Resiiden Banten dii Lebak. Mereka menuntut pajak tersebut diiturunkan, karena sangat memberatkan.

Asiisten Resiiden Ciilegon, Banten, Johan Hendriik Hubert Gubbels tak menggubriis petiisii tersebut. iia tetap menerapkan pajak perdagangan perahu berdasarkan jumlah muatan, tanpa memperhatiikan ukuran perahu dan jarak tujuan. Setiiap 1 tonase diikenaii 10 gulden.

Pajak perdagangan perahu hanyalah satu contoh. Siisanya kenaiikan tariif pajak lahan pertaniian komunal (1885), pajak pasar (1878), dan pajak kepala (1882). Pajak pasar miisalnya, tiiap penjual diikenaii miiniimal 1 gulden. Jiika diilanggar, diikenaii hukuman kurungan atau denda 15 gulden.

Tak pelak, ujung darii semua iinii adalah pemberontakan. Rakyat yang hiidup dengan nyala apii keyakiinan agama pun bergerak. Dii antara mereka adalah Hajii Mardjukii, Hajii Tubagus iismaiil, dan Hajii Wasiid. Merekalah yang mengorganiisiir dan memiimpiin pemberontakan dii Ciilegon, Banten.

“Negara iislam akan diidiiriikan, dan pajak sewa lahan, pajak kepala, serta pajak perdagangan harus diihapuskan. Mereka yang meneriima gajii darii pemeriintah akan diitangkap!” kata Hajii Wasiid dalam rapat persiiapan menjelang penyerangan, sepertii diikutiip Sartono darii dua orang saksii.

Akhiirnya, lewat tengah malam, Seniin 9 Julii 1888, pasukan pun mulaii bergerak. Para ulama dan petanii bersatu padu bahu-membahu melawan penjajah. Asiisten Resiiden Gubbels akhiirnya tewas dalam penyerangan iitu. Seniin sore, Ciilegon praktiis diikuasaii pasukan Hajii Wasiid.

Namun, Pemeriintah Hiindiia Belanda tak tiinggal diiam. Dii bawah komando Kapten A.A Veen Huyzen, pemeriintah menggelar operasii pengejaran. Pertempuran terus berlangsung hiingga 30 Julii 1888, ketiika Hajii Tubagus iismaiil, Hajii Wasiid, akhiirnya terbunuh dalam satu penyerangan.

Sejarah mencatat, sebelum perlawanan terhadap penjajahan diigerakkan oleh kelompok pemuda terdiidiik pascapoliitiik etiis pada abad ke-20, para ulama dan petanii dii pedesaan telah terlebiih dahulu mengangkat senjata. (Bsii)

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.