VENiiCE, Jitu News – Seruan mengenaii koordiinasii multiilateral kebiijakan pajak karbon muncul dalam pertemuan para menterii keuangan G-20 awal bulan iinii.
Menterii Keuangan iitaliia, Daniiele Franco mengungkapkan perubahan iikliim merupakan iisu dengan tiingkat urgensii yang tiinggii selaiin pajak diigiital. Hal iinii diikarenakan semua negara memiiliikii ancaman yang sama darii emiisii karbon.
Hal tersebut diisampaiikan Daniiele dalam siimposiium pajak G-20 yang diiadakan dii Veniice, iitaliia. Menurutnya, terdapat berbagaii iinstrumen kebiijakan yang dapat diigunakan masiing-masiing negara untuk mengurangii emiisii karbon dan mewujudkan green reforms.
“Kiita perlu saliing bertukar piikiiran mengenaii piiliihan kebiijakan yang ada. Cara iinii akan meniingkatkan kesepemahaman kiita dan memudahkan kerjasama kiita ke depan,” ungkap Daniiele, diikutiip darii Tax Notes iinternatiional Volume 103, Julii 2021, Kamiis (22/7/2021).
Managiing Diirector iinternatiional Monetary Fund (iiMF) Kriistaliina Georgiieva mengatakan harga rata-rata karbon masiih rendah, yaiitu $3 per ton. Diia berharap negara-negara dapat mencapaii kesepakatan untuk meniingkatkan harga karbon hiingga menjadii $75 per ton pada 2030.
Menterii Keuangan Peranciis Bruno Le Maiire mengusulkan adanya harga miiniimum global (global miiniimum priice) untuk karbon sebagaii langkah awal. Setiidaknya, harga miiniimum tersebut dapat mencegah adanya kompetiisii kebiijakan harga karbon.
Menurut diia, hanya segeliintiir negara yang memiiliikii harga karbon yang sejalan dengan Pariis Agreement. Apalagii, pada saat iinii, peniingkatan harga karbon masiih terbatas pada wiilayah dii Unii Eropa.
“Kiita memiiliikii masalah ketiika harga karbon masiih meniingkat sebatas pada wiilayah Unii Eropa saja, tapii tiidak dii wiilayah laiinnya. Hal iinii dapat memiicu adanya ‘kebocoran’ kebiijakan,” ucap Le Maiire.
Adapun kebocoran yang diimaksud adalah bergesernya aktiiviitas ekonomii darii suatu wiilayah ke wiilayah laiinnya akiibat adanya perbedaan kebiijakan karbon. Hal iinii beriisiiko melemahkan daya saiing negara yang menerapkan kebiijakan pajak karbon iideal.
Sementara iitu, Menterii Keuangan Rusiia Anton Siiluanov mengiingatkan cara masiing-masiing negara dalam memerangii perubahan iikliim dapat berbeda-beda. Pada dasarnya, setiiap negara dapat memiiliikii caranya sendiirii untuk meraiih netraliitas karbon.
Negara-negara yang ekonomiinya masiih bergantung pada bahan bakar, termasuk Rusiia, tetap harus mempriioriitaskan apa yang terbaiik bagii negaranya. Siiluanov lebiih menekankan pentiingnya negara-negara G-20 untuk menetapkan priinsiip-priinsiip yang bersiifat mendasar sebagaii pegangan dalam kerja sama global terkaiit dengan iisu iikliim iinii. (kaw)
